Aku hanyalah seorang gadis biasa yang mengalami begitu banyak kekecewaan di dalam kehidupanku, begitu banyak hal yang tidak seharusnya terjadi di dalam kehidupan seorang gadis berusia 19 tahun. Aku mengalami begitu banyak hal yang pada akhirnya menimbulkan luka di dalam batinku, yang tanpa sadar menjadi sisi gelap dalam hidupku. Sisi gelap itu bahkan tanpa sadar seringkali muncul dan menjadi sifat yang buruk.
Begitu lama aku terus memendam semua kekecewaan itu di dalam batinku. Seringkali aku merasa lelah dan putus asa, bahkan aku juga pernah berpikir untuk bunuh diri. Tapi untungnya aku terlalu takut untuk merasakan sakit ketika bunuh diri. (=P) Aku menyimpan segala kebencian pada beberapa orang yang menyebabkan kekecewaan itu dalam hidupku. Aku bahkan menutup diriku agar tidak ada orang yang dapat melihat luka-luka dalam diriku. Aku tersenyum, tertawa, dan berusaha untuk selalu bersikap ceria. Kenapa? Karena aku tidak ingin orang lain tahu, aku tidak ingin orang lain merasa kasiha padaku. Aku ingin orang lain melihat kalau aku adalah seseorang yang ceria.
Walaupun begitu, aku tetap tidak bisa menyembunyikan segala luka itu dari Tuhan. Tuhan tahu apa yang kurasakan, Tuhan tahu penderitaan yang kualami. Tuhan bahkan tahu kalau aku juga membenci-nya, Tuhan tahu kalau aku marah pada-Nya, seringkali menyalahkan-Nya ata semua yang terjadi dalam hidupku. Tapi, Tuhan tetap saja tidak membenciku, Ia bahkan memberikan kasih-Nya yang begitu besar untukku, Tuhan menunggu sampai aku mau datang padanya dan meminta Ia menyembuhkan segala luka di hatiku. Tuhan dengan sabar menuntunku menuju pada rencana-Nya.
Ya, tanpa sadar aku terus mengikuti segala rencana Tuhan, yang dirancang-Nya dengan amat sangat baik. Segala penderitaan yang kualami, menuntunku sehingga aku semakin dekat dengan Tuhan. Entah apa jadinya jika saja semua kejadian itu tidak pernah aku alami.
Aku berpikir, jika saja tidak ada masalah pada kedua orangtuaku, mungkin aku tidak akan pernah berani konseling pada seorang Romo. Jika aku tidak konseling, ia mungkin tidak akan pernah mengenalku dan mengajakku untuk ikut dalam sebuah komunitas yang dinamakan Legio Mariae. Jika saja aku tidak ikut Legio, mungkin saat ini aku sudah tidak mempunyai seorang teman yang mau mendengarkan segala sharingku, bahkan mungkin aku tidak mempunyai teman seorang pun. Mengapa? Terbukti karena sekarang aku bahkan sudah jarang berkomunikasi dengan teman-teman sekolahku, kecuali seseorang yang juga ikut dalam Legio. Teman-temanku saat ini adalah teman-teman Legio, mereka yang membantuku supaya aku semakin dekat dengan Tuhan. Begitu banyak kejadian yang lain yang tidak bisa kuceritakan di sini.
Sampai akhirnya kemarin tanggal 27-30 Oktober aku mengikuti Retret Penyembuhan Luka Batin di Lembah Karmel. Aku yakin itu juga karena Rencana Tuhan. Sudah lama sekali temanku mengajakku mengikuti retret, tapi aku selalu menolak dengan berbagai alasan yang kubuat karena sebenarnya aku belum siap. Tapi Tuhan terus menungguku, sampai akhirnya kemarin aku menghampiri-Nya.
Aku tidak tahu saat ini apakah aku sudah sembuh sepenuhnya atau belum, tapi aku merasa ada sedikit luka yang telah disembuhkan oleh-Nya, dan aku yakin perlahan-lahan Tuhan akan menyembuhkan seluruh luka-luka di batinku dan memberikan sebuah hati yang baru dan utuh tanpa cacat. Aku masih belum bisa sepenuhnya mengampuni mereka yang telah menyakiti hatiku. Tapi beban hatiku tidak seberat sebelumnya.
Aku mungkin belum bisa mengampuni kedua orangtuaku denga tulus seperti kata seorang suster, tapi hubunganku dengan Tuhan sekarang sudah membaik. Aku tidak lagi menyalahkan Tuhan atas semua penderitaan ini, tapi aku malah bersyukur pada Tuhan. Karena itu aku merasakan sukacita dan kegembiraan pada hari sabtu malam kemarin. Aku merasakan Roh Kudus benar-benar hadir dalam diriku. Aku benar-benar bersyukur Tuhan masih tetap mau menerimaku menjadi anak-Nya, menajadi sahabat-Nya.
Sekarang aku mengalami sedikit perubahan. Dulu aku begitu canggung untuk mengobrol dengan temanku, tapi sekarang tidak lagi, mungkin Tuhan telah menyembuhkan luka batinku padanya. Aku juga menjadi lebih berani, Tuhan pasti sudah mengambil seluruh rasa takutku.
Aku janji, aku akan berusaha untuk mengampuni kedua orang tuaku. Entah bagaimana caranya Tuhan pasti akan membantuku untuk menghilangkan semua luka batinku ini. Aku percaya rancangan Tuhan indah adanya. Ia tidak akan pernah meninggalkanku. Kuncinya adalah percaya. Aku tidak mau lagi khawatir dengan keadaan. Kuliahku juga, aku percaya Tuhan akan menunjukkan jalan padaku.
Terima kasih Tuhan untuk semua yang telah Kau berikan padaku, terima kasih atas rasa syukur ini..