RSS

Category Archives: FF

[G/Straight/OneShoot] I’m Sorry… (SongFict)

Pertama kalinya aku coba bikin songfict.. Hmmm…entahlah bagus atau enggak.. =P Semoga aja cukup menarik untuk dibaca..

Title : I’m Sorry

Cast : Lee Joon, Choi Hyejin, Yang Yoseob

Author : Chrisalva

Length : One Shoot

 

[Joon POV]

Girl
I still regret a lot
I wanna, I wanna turn back times

Aku adalah seorang pria yang sangat bodoh. Aku membuat orang yang kucintai pergi dari sisiku. Kini, aku benar-benar sangat menyesal. Aku sangat merindukannya. Kalau saja waktu itu aku mau mendengarkan penjelasannya, mungkin sekarang ia masih berada di sisiku.

_Flash Back_

Aku menatap layar TV dengan wajah mengeras. Aku marah sekali melihat cuplikan foto-foto yang ada di layar TV. Foto itu menunjukkan seorang pria sedang mencium seorang wanita. Foto itu sangat jelas. Aku tentu tidak akan semarah ini jika saja yang ada di foto tersebut bukanlah gambar kekasihku, gadis yang aku cintai dan telah berhubungan denganku selama 1 tahun lebih.

Aku sungguh tidak menyangka, Hyejin, kekasihku, berhubungan dengan sahabatku sendiri, Yang Yoseob. Aku sangat marah dengan kedua orang itu. Ingin rasanya saat ini juga aku menemui mereka berdua. Sayang, saat ini aku sedang di Jepang untuk mempromosikan single terbaru MBLAQ. Dua hari lagi aku baru bisa pulang ke Korea.

[Author POV]

Berita di layar TV itu juga telah membuat kehebohan di tempat lain. Tidak lain adalah di tempat Hyejin dan Yoseob. Mereka berdua dikejar-kejar oleh para wartawan. Mereka bahkan tidak bisa keluar dari apartemen, karena para wartawan tersebut menunggu di lobi apartemen. Bahkan ada beberapa yang menunggu di depan pintu apartemen. Hal tersebut tentu saja membuat Hyejin dan Yoseob tidak tahu harus berbuat apa. Manager mereka berdua yang gelisah mencari cara untuk mengatasi masalah tersebut.

Akhirnya, Hyejin dan Yoseob dapat keluar dari apartemen dengan menyamar. Mereka berdua langsung menuju ke Cube Entertainment, untuk mendiskusikan masalah tersebut dengan president Cube Entertainment. Tentu saja, mereka kena marah oleh president.

Setelah melakukan rapat singkat pun mereka tidak menemukan cara untuk mengatasi masalah tersebut. President menyerahkan masalah ini dan menyuruh Hyejin dan Yoseob untuk mencari cara menyelesaikan masalah itu sendiri.

“Hyejin, mianhae…” kata Yoseob, ketika akhirnya mereka tinggal berdua di ruangan rapat. “Aku…aku terbawa suasana.”

Hyejin memandang Yoseob sebentar lalu menghela nafas. “Sudahlah, sudah terjadi, mau bagaimana, percuma aku marah padamu.”

Yoseob tersenyum singkat, ia memandang Hyejin. “Hyejin-ah.. ehm…yang kemarin aku katakan padamu semuanya benar. Aku memang mencintaimu sejak lama.”

Hyejin terdiam, ia bingung harus menjawab apa. “Tapi, aku hanya menganggapmu sebagai sahabat, Seobie.. Kau tahu kan, aku mencintai Joon oppa.” Hyejin menghela nafas lagi. “Tidak tahu bagaimana cara menjelaskannya pada Joon oppa. Ia pasti marah padaku, ia tidak mau mengangkat telepon-ku dan tidak membalas sms dariku.”

Yoseob menatap Hyejin dengan sedih. Yoseob menyesal telah membawa Hyejin ke dalam masalah seperti ini dan membuat Hyejin sedih. Kejadian semalam pasti merusak hubungan Hyejin dan Joon. Belum lagi, ada beberapa fans yang berubah menjadi antifans. Hal itu sangat membuat Yoseob menyesal.

[Joon POV]

Akhirnya aku tiba juga di Korea. Entah mengapa aku tidak ingin menemui Hyejin. Ia benar-benar telah menyakiti hatiku. Bagaimana mungkin ia bisa berciuman dengan Yoseob di depan umum? Apa selama ini mereka berhubungan?

Ternyata Hyejin telah menunggu di depan pintu apartemen-ku. Ketika melihat wajahnya, hatiku terasa sakit. Aku memalingkan wajah darinya, lalu tetap berjalan tanpa mempedulikannya.

“Joon oppa… dengarkan penjelasan aku, ya?” Hyejin menarik tanganku menghentikan langkahku.

“Tidak ada yang perlu dijelaskan!” kataku dengan dingin tanpa memandang ke arahnya. Aku lalu melepaskan tangannya dengan kasar.

Hyejin berdiri di depanku, menghalangi jalanku. “Kumohon, dengarkan penjelasanku. Ini semua tidak seperti yang kau pikirkan.” Wajah Hyejin basah oleh air mata. Seharusnya aku paling tidak tahan melihat Hyejin menangis, tapi hatiku masih terasa sakit karena pengkhianatannya. Aku memutuskan untuk mengeraskan hatiku.

“Semuanya sudah jelas Hyejin!” kataku kesal. “Sudahlah, lebih baik kita putus saja! Jangan menemuiku lagi! Aku tidak mau melihat wajahmu lagi!” bentakku padanya, lalu aku masuk ke apartemenku dengan membanting pintu di hadapannya.

_Flashback End_

Sejak hari itu, Hyejin benar-benar menghilang dari kehidupanku. Seminggu kemudian aku menerima sepucuk surat dari Hyejin yang berisi tentang penjelasannya. Saat itu hatiku masih keras dan tidak mempedulikannya, bahkan tidak berusaha mencarinya.

Baby girl
Even if I try to erase your presence
And even your name
I can’t forget you

Aku berusaha melupakan Hyejin dengan kebencianku padanya. Aku berusaha membuang semua kenanganku bersamanya. Namun, aku tidak bisa. Sudah dua bulan aku berusaha melupakan dirinya, tapi bayangannya semakin nyata di dalam benakku.

Aku berusaha menyibukan diriku dengan kegiatan-kegiatan MBLAQ, bahkan tidak jarang aku juga melakukan kegiatan lain. Tapi, semua itu sia-sia. Semakin ingin aku melupakannya, semakin aku merindukannya. Semakin aku berusaha membencinya, aku semakin mencintainya.

When the time passes and passes
When the pain becomes a memory
If you can return to me with that
Kind of heart that loved me again

Sekarang, sudah setahun lebih berlalu sejak kejadian itu. Aku masih tidak bisa melupakan dirinya. Semua kenanganku bersama Hyejin, masih dapat kuingat dengan jelas. Seandainya aku bisa mengulang waktu, aku ingin mendengarkan penjelasannya dan berkata aku percaya padanya.

Aku benar-benar merindukannya. Jika saja tidak ada kejasian itu, hari ini adalah peringatan 3 tahun kami berhubungan. Aku ingin sekali bertemu dengannya, memeluknya, menciumnya. Aku ingin mengatakan padanya kalau aku masih sangat mencintainya. Seandainya saja, aku mempunyai kesempatan kedua.

I’m sorry girl I’m sorry girl
I’m sorry girl I’m sorry girl
I’m sorry girl I’m sorry girl

Aku hanya bisa mengatakan ‘maaf’ padanya, karena aku tidak mempercayainya. Aku lebih memenangkan perasaan cemburuku, dibandingkan rasa cintaku padanya. Tapi, apakah aku mampu untuk mengatakan kalimat itu padanya? Apakah masih ada kesempatan untuk itu?

My mind a blank, I go crazy from the thoughts of you
No matter how much I call And call again you aren’t here

Walaupun aku berkali-kali memanggil namamu, kau tidak akan pernah datang lagi padaku. Kau tidak akan pernah kembali lagi padaku. Aku tidak tahu bagaimana caranya bertemu lagi denganmu. Kau sudah pergi, pergi dan tak akan kembali lagi.

Di sinilah aku saat ini. Menatap kosong sebuah batu di hadapanku. Sebuah batu yang bertuliskan namamu. Mengapa kau memilih jalan ini? Mengapa kau begitu bodoh?

Ya, Ia telah pergi. Pergi ke tempat di mana aku tidak akan pernah bisa menemuinya lagi. Aku benar-benar telah kehilangan dirinya. Tiga bulan setelah aku menerima sepucuk surat berisi penjelasan dari Hyejin, aku menerima sepucuk surat lagi, surat perpisahan dari Hyejin. Setelah itu aku mendengar kabar kalau Hyejin meninggal karena overdosis.

Ia memutuskan untuk menghilangkan nyawanya dengan cara itu. Setelah mengirim surat padaku, ia pergi. Aku benar-benar sangat menyesal. Tidak ada yang bisa merasakan apa yang aku rasakan.

Why didn’t I get a hold of you back then
Looking at myself regretting after sending you away
Like this I miss you
I miss you I need you
I’m sorry no way
Come to me

Aku tidak akan pernah bisa mengatakan kalimat itu. “I’m sorry”.. Aku yang membuatnya memutuskan untuk pergi dari dunia ini. Aku yang telah membunuhnya. Aku benar-benar sangat merindukannya saat ini.

Aku sudah memutuskan, aku ingin bertemu dengannya. Aku mengeluarkan sebotol obat dari kantong. Aku menatapnya, bergantian dengan menatap batu di hadapanku.

“Hyejin-ah, sebentar lagi kita akan bertemu kembali. Aku merindukanmu Hyejin…” Aku tersenyum pahit. Perlahan aku membuka botol itu dan menuang isinya ke dalam mulutku, semuanya. Aku telah memutuskan untuk mati dengan cara yang sama dengan Hyejin.

Setelah ini, aku hanya berharap aku bisa bertemu dengan Hyejin. Aku sangat merindukannya. Tanpa dirinya di sisiku, aku tidak bisa hidup. Aku sangat membutuhkannya. Ia adalah jiwaku, jika ia tidak ada, aku hanyalah sebuah raga tanpa jiwa. Sekarang, raga ini akan pergi mencari jiwanya.

FIN

 

 
Leave a comment

Posted by on 2011/06/20 in FF

 

[FF/PG/Straight] My Prince (Chapter 1)

Gw bikin novel ini terinspirasi setelah baca novel Putri Huan Zhu karangan Chiung Yao. Gw suka banget sama serial Putri Huan Zhu, dari film sampe novelny juga. Maka dari itu gw buat aja FF yang memakai beberapa tokoh dalam novel tersebut. Agak aneh sih FF ini, soalnya belum pernah nulis FF seperti ini..hehe.. Please comment.. =D

Title : My Prince

Cast : Yung Chi (Ai Chi), Tan Mei Lan

Author : Christy

Chapter 1

[Author POV]

Kisah ini dimulai ketika seorang pangeran jenuh dengan keadaan di istana dan memutuskan untuk berjalan-jalan keluar istana. Pangeran tersebut ditemani oleh seorang pengawal sekaligus teman baiknya, Ertai. Mereka menunggang kuda di sebuah lapangan terbuka. Setelah lelah berkuda, mereka kemudian mampir ke sebuah rumah makan yang tidak jauh dari tempat mereka berkuda tadi. Rumah makan tersebut bernama Huipin.

Yung Chi dan Ertai duduk di meja yang agak terpojok. Walaupun mereka meneggunakan pakaian rakyat jelata, tetap saja mereka khawatir jika rakyat mengetahui status mereka. Hal tersebut bisa membahayakan keselamatan Yung Chi, yang adalah seorang pangeran. Sambil menunggu pesanan mereka diantarkan, mereka mengobrol.

Tiba-tiba Yung Chi merasa ingin ke toilet, ia lalu bangkit berdiri. Ertai mengikutinya berdiri.

“Aku hanya mau ke toilet sebentar, tidak perlu menemaniku. Kau tunggu di sini saja.” Kata Yung Chi.

Ertai tidak memaksa, ia kemudian duduk kembali. Ertai tetap memperhatikan Yung Chi dari tempat duduknya. Biar bagaimanapun, keselamatan Yung Chi merupakan tanggung jawabnya.

Ketika Yung Chi sedang berjalan kembali setelah dari toilet, ada seorang pelayan wanita yang menabraknya. Yung Chi langsung menarik tubuhnya menghindar, tapi tetap saja pakaiannya kotor terkena tumpahan makanan yang dibawa pelayan itu. Pelayan tersebut yang juga kaget tidak bisa menjaga keseimbangan tubuhnya, ia hampir jatuh. Yung Chi dengan sigap menangkap tubuh pelayan itu sehingga jatuh ke pelukannya. Mereka bertatapan sebentar, baru Yung Chi membantu pelayan itu berdiri.

Pelayan itu yang ternyata adalah seorang gadis muda langsung membungkuk ke arah Yung Chi. “Maaf.. maaf.. Saya tidak sengaja. Maaf.”

Tiba-tiba majikan pemilik rumah makan tersebut datang dan langsung memukul si pelayan tadi. “Kau ini selalu saja membuat masalah! Bisa kerja tidak sih!!” bentaknya kasar sambil mendorong tubuh pelayan itu.

Ertai yang melihat kejadian itu langsung menghampiri Yung Chi dan bertanya dengan khawatir. “Yung Chi, kau tidak apa-apa?”

“Tidak. Tidak.” Katanya pada Ertai. Yung Chi lalu memandang pelayan yang hanya bisa menundukkan kepala menerima makian dari majikannya. Yung Chi merasa tidak tega, karena makian majikannya itu begitu kasar, dan majikannya itu tidak segan-segan memukul.

“Sudah..sudah.. tidak usah memarahinya lagi.” Kata Yung Chi pada majikannya. Yung Chi lalu memandang pelayan tersebut. “Lain kali kau harus hati-hati.”

Pelayan itu memandang Yung Chi dengan penuh terima kasih, ia lalu membungkuk lagi. Majikannya yang terlihat masih belum puas memarahinya langsung menjambak rambutnya, menariknya masuk ke dalam. Yung Chi memandangnya dengan kasihan. Namun, ia tidak bisa berbuat apa-apa, karena tidak mungkin ia mencampuri urusan orang. Yung Chi lalu kembali ke tempat duduknya dan diikuti oleh Ertai.

“Pakaianmu kotor, apa kita pulang saja sekarang?” tanya Ertai pada Yung Chi.

Yung Chi baru ingat kalau pakaiannya terkena tumpahan makanan yang dibawa pelayan tadi. Ia menghembuskan nafas. “Ya sudahlah kita pulang saja. Aku juga sudah tidak berselera makan.” Katanya lalu berdiri dan berjalan keluar dari rumah makan itu.

Tanpa sadar ada sepasang mata yang memandang kepergian Yung Chi dan Ertai. Ia adalah pelayan yang ditabrak Yung Chi tadi. Entah mengapa ada perasaan aneh di dalam hati gadis tersebut.

                                                                        ***

Yung Chi menghempaskan tubuhnya di atas kursi. Sudah seminggu sejak insiden di rumah makan Huipin. Tapi entah mengapa Yung Chi tidak bisa melupakan wajah gadis pelayan tersebut. Ia bisa melihat dalam mata gadis itu terdapat begitu banyak kesedihan dan penderitaan. Entah apa yang sering dilakukan majikannya ketika ia berbuat salah.

Yung Chi bangkit berdiri kemudian berjalan mondar-mandir di aula istana Jing Yang, istana ini adalah paviliun pribadinya yang diberikan oleh ayahanda kaisar.

Ertai yang melihat sahabatnya gelisah seperti ini tidak tahan untuk tidak bertanya. Ertai menepuk dada Yung Chi dengan punggung tangannya. “Sebenarnya apa yang terjadi denganmu sih? Akhir-akhir ini kau terlihat tidak bersemangat. Ada apa?”

Yung Chi menghembuskan nafasnya. “Kau tidak mengerti Ertai. Aku sendiri pun tida mengerti mengapa aku seperti ini.” Yung Chi menjatuhkan dirinya di kursi lagi.

Ertai berdiri di hadapan Yung Chi dan melipat tangannya di depan dada. “Biar kutebak. Apa kau sedang memikirkan pelayan yang waktu itu menabrakmu?” tanyannya.

Yung Chi tidak menjawab, ia hanya menghembuskan nafas berat. Ertai bertanya lagi. “Hei! Kau tidak jatuh cinta pada gadis itu kan?”

Tanpa sadar wajah Yung Chi bersemu merah, ia menjadi salah tingkah. “Kau ini bicara apa sih?! Jatuh cinta sama siapa? Tidak mungkin aku jatuh cinta!” katanya kesal menyembunyikan debar jantungnya.

Melihat wajah Yung Chi yang memerah dan tingkah Yung Chi yang aneh, Ertai berkata dengan cemas. “Yung Chi, kau tidak boleh jatuh cinta padanya!”

Mendengar itu Yung Chi semakin salah tingkah. Ia mengibaskan lengan bajunya. “Aku tahu, aku tidak mungkin jatuh cinta padanya. Aku hanya merasa kasihan padanya, sepertinya ia mengalami begitu banyak penderitaan.”

Ertai menghela nafas. “Walaupun memang begitu, tapi untuk apa kau memikirkannya? Itu kan bukan urusanmu. Sudahlah, lupakan kejadian itu Yung Chi.”

Yung Chi tidak menjawab, tatapan matanya menerawang. Ia sungguh penasaran, sebenrnya gadis seperti apa dia? Dan penderitaan apa yang selama ini dialaminya? Tanpa sadar rasa penasaran Yung Chi itu membuat kehidupannya berubah.

                                                                        ***

Di tempat lain, Mei Lan terlihat sangat menderita. Ia duduk meringkuk di pojok ruangan, tubuhnya menggigil karena udara saat itu yang dingin dan ia hanya mengenakan pakaian tipis. Di wajahnya ada beberapa memar bekas dipukul orang. Air matanya mengalir, ia menangis tanpa suara.

Kondisi mengenaskan itu ternyata adalah perbuatan majikannya yang galak dan suka main tangan. Hari ini lagi-lagi ia membuat kesalahan. Sebenarnya itu juga bukan sepenuhnya salahnya. Ia hanya berusaha menolak beberapa pria yang ingin memeluk dan menciumnya, ia hanya berusaha menjaga kesucian dirinya. Tapi, karena hal itu, ia malah dipukuli oleh majikannya.

Mei Lan adalah seorang pelayan di rumah makan Huipin, ia juga sekaligus adalah wanita penghibur. Ia bekerja melayani pria-pria yang ingin minum arak, menuangkan arak dan minum bersama mereka. Namun, terkadang ada beberapa pria yang berlebihan dan mencoba melecehkan dirinya. Mei Lan selalu berusaha menjaga kesucian dirinya sehingga seringkali kena marah majikannya. Namun, ia tidak peduli, lebih baik kena pukul daripada harus kehilangan kesuciannya.

Mei Lan seringkali merasa dunia tidak adil padanya. Sejak kecil ia harus bekerja, dijual menjadi budak dari satu majikan ke majikan lain. Seringkali ia mendapat majikan yang galak dan kasar, sering menyiksanya. Maka dari itu ia sudah terbiasa dengan luka di wajah dan seluruh tubuhnya. Ia hanya bisa pasrah.

                                                                        ***

Akhirnya Yung Chi tidak tahan lagi. Ia pergi keluar istana lagi beberapa hari kemudian. Kali ini ia pergi sendiri, tidak ditemani Ertai maupun pengawal lain. Ia sungguh penasaran dengan gadis tersebut. Yung Chi masuk ke rumah makan Huipin dan mencari tempat kosong, sambil matanya juga mencari keberadaan gadis tersebut.

Matanya kemudian menangkap keberadaan Mei Lan. Ia kaget sekali melihat Mei Lan berada di tengah beberapa pria yang kelihatannya mabuk. Ia menuangkan arak untuk pria-pria tersebut dan sesekali meminum araknya. Namun, ada seorang pria yang kurang sopan dan berusaha memeluk Mei Lan. Tentu saja Mei Lan berusaha menolak dan mendorong pria tersebut. Pria tersebut malah semakin berani menjamah tubuh Mei Lan.

Kejadian itu tentu saja membuat darah Yung Chi mendidih. Apalagi melihat Mei Lan yang kelihatan tak berdaya, berusaha menolak namun tenaga pria tersebut lebih besar darinya. Akhirnya, Yung Chi mengambil tindakan. Ia terpaksa mengeluarkan jurus kungfunya dan menghajar pria tersebut lalu menarik Mei Lan ke belakangnya.

Mei Lan terkesiap dan merasa sangat berterima kasih ditolong, namun juga ada perasaan gelisah dan takut.

Pria yang dihajar Yung Chi merasa tidak terima, begitu juga teman-temannya. Mereka lalu melawan Yung Chi. Mei Lan yang melihat hal itu menjadi cemas. Bagaimana tidak cemas, melihat Yung Chi seorang diri melawan sekitar 4-5 orang pria.

Namun, kungfu Yung Chi sangat bagus. Yung Chi bisa menjatuhkan pria-pria tersebut sampai mereka berlutut meminta ampun pada Yung Chi.

Kejadian seperti itu tentu saja membuat majikan Mei Lan datang ke situ. Melihat keributan itu, majikannya langsung memarahi Mei Lan. “Kau pasti membuat masalah lagi! Kau memang tidak tahu diri!!” ia mendorong kepala Mei Lan dengan kasar.

Yung Chi yang melihat hal tersebut langsung membela Mei Lan. “Tunggu, jangan menyakitinya. Ini bukan kesalahannya, pria-pria ini yang berlaku tidak sopan terhadapnya.” Kata Yung Chi tegas.

“Anak muda, kau tidak usah membelanya. Dia ini memang senang sekali membuat mesalah dan keributan di rumah makan ini.” Kata majikannya dengan kesal. “Aku sudah mengeluarkan banyak uang untuk membelinya, tapi ia tidak tahu terima kasih dan tidak bisa bekerja dengan benar!”

Yung Chi menatap pemilik rumah makan itu. “Tapi budak kan juga manusia. Kau tidak bisa menyiksanya terus-terusan seperti ini, apalagi ini bukan kesalahannya. Biar saya ganti kerugian yang saya timbulkan.” Yung Chi lalu mengeluarkan sekeping uang emas dan menyerahkannya pada pemilik rumah makan itu.

Pemilik rumah makan Huipin kaget sekali melihat uang sebanyak itu di tangannya. Ia tidak memarahi Mei Lan lagi lalu masuk ke dalam.

Setelah majikannya pergi dari situ, Mei Lan berlutut dan berkowtow di hadapan Yung Chi, mengucapkan terima kasih. “Terima kasih atas pertolongan anda tadi. Maaf sudah merepotkan anda.”

Yung Chi merasa tidak enak. “Hei, tidak usah berowtow. Ayo bangun.” Yung Chi lalu membantu Mei Lan berdiri. “Boleh aku bicara denganmu sebentar?”

Mei Lan memandang Yung Chi bingung lalu mengangguk ragu-ragu. Yung Chi tersenyum lalu berjalan ke luar rumah makan. Mei Lan mengikutinya dari belakang.

Yung Chi lalu memandang Mei Lan, ia mencari sesuatu di wajah Mei Lan. “Sebenarnya apa pekerjaanmu di sini?” tanyannya.

Mei Lan menjawab sambil menunduk. “Saya…hanyalah seorang budak. Pemilik rumah makan ini membeli saya untuk menjadi pelayan di sini, sekaligus menemani pria-pria minum arak.”

Yung Chi bertanya lagi dengan bingung. “Memangnya di mana orang tua mu? Kenapa kau dijual?”

Mei Lan menggigit bibir bawahnya, berusaha menahan air matanya. “Saya tidak tahu di mana kedua orang tua saya. Sejak kecil saya sudah menjadi budak orang. Mungkin mereka menjual saya.”

Yung Chi kaget sekali mendengarnya. Ia sungguh merasa kasihan pada Mei Lan. “Mereka sering menyiksamu?” tanyannya prihatin.

Mei Lan hanya bisa mengangguk pelan. “Saya sudah terbiasa dimarahi dan dipukuli.”

Yung Chi menghela nafas panjang. “Kalau boleh tahu, siapa namamu?”

Mei Lan mengangkat wajahnya memandang Yung Chi. Ia agak bingung kenapa pria di hadapannya ini bertanya terus padanya. “Nama saya Mei Lan. Marga saya Tan.” Jawabnya.

Yung Chi mengagguk dan menggumamkan nama itu. “Mei Lan.. Nama yang bagus.” Ia lalu tersenyum. “Namaku hanya Chi, margaku Ai. Jadi panggil saj Ai Chi.” Yung Chi menatap Mei Lan. “Kau harus berani melawan orang yang menyiksamu. Jangan sungkan untuk meminta bantuanku.”

Mei Lan kemudian mengangguk dengan ragu. Ia bingung sebenarnya siapa pria ini. Apakah ia utusah Tuhan untuk menolongnya? Ia tidak tahu. Namun, pertemuannya dengan Yung Chi telah membuat perubahan besar dalam kehidupannya kelak.

                                                                        ***

 
Leave a comment

Posted by on 2011/05/12 in FF

 

[Straight/G] Which one I must Choose??

Hmm…lagi-lagi gw bikin FF gaje..wkwk… Kali ini gw lagi pengen pake Yoseob sebagai tokoh utama. Agak sulit sih, soalnya ini pertama kalinya gw pake Yoseob, sebelumnya kan gw selalu pake Yunho, Junsu, atau Changmin sebagai tokoh utama pria. Gw udah bisa dapet karakter mereka bertiga. Makanya di ff ini juga yang karakternya lebih keliatan yah si Yunho, daripada Yoseob..hehehe…

Tapi, lama-kelamaan gw pasti bisa nemuin karakter yang cocok buat Yoseob. So, enjoy this FF.. Please comment.. :D

Title : Which one i must choose?

Cast : Yang YoSeob, Jung Hyejin, Jung Yunho

Author : Christy

[Author POV]

Siang hari ketika jam istirahat siang di sebuah sekolah, tempat yang menjadi favorite siswa/i adalah kantin. Hampir seluruh isi sekolah tumpah di kantin untuk menikmati makan siang mereka. Namun, ada beberapa orang yang memilih tetap di kelas atau ke tempat lain. Seperti gadis ini, ia terlihat berjalan menuju perpustakaan dengan membawa notebook-nya.

Ketika ia sedang mengerjakan sesuatu di notebook-nya, ada seorang pria yang diam-diam menghampirinya dan menutup matanya. Gadis itu tersenyum dan memegang tangan pria itu. “Jangan main-main oppa.. Aku sedang mengerjakan tugas.”

Pria yang bernama Yoseob itu tertawa lalu menarik tangannya kemudian duduk di kursi sebelah gadis yang tadi ditutup matanya oleh Yoseob. “Hmm..aku mencarimu ke mana-mana ternyata kau di sini. Kau tidak makan siang Hyejin?”

Hyejin menggeleng. “Aku tidak lapar. Lagipula aku harus segera menyelesaikan laporanku ini, besok harus dikumpul.”

Yoseob menggelengkan kepalanya. “Hei..kau tetap saja harus makan, bagaimana kalau kau jatuh sakit?”

Hyejin meringis nafas. “Tapi oppa..laporan ini harus ku selesaikan sekarang. Nanti sore aku ada pemotretan. Tidak tahu sampai jam brapa. Hmm..kau saja makan siang sana.”

Hyejin adalah seorang singer yang sedang naik daun sehingga banyak tawaran untuk pemotretan ini-itu. Ia menjadi sagat sibuk dengan pekerjaanya, yang membuat sekolahnya hampir terlantar. Begitu juga dengan Yoseob yang merupakan anggota dari satu boyband terkenal. Mereka berada di bawa agency yang sama dan pernah membintangi CF bareng dan tidak disangka mereka berdua berada di sekolah yang sama.

Yoseob kemudian mengambil notebook Hyejin kemudian berdiri. “Kau tetap saja harus makan. Aku tidak mau kau jatuh sakit. Ayo ke kantin.” Yoseob lalu berjalan.

Hyejin menggerutu pelan kemudian berdiri mengejar Yoseob. Ketika ia berhasil menjajari langkah Yoseob baru ia berbicara. “Oppa, kembalikan notebook-ku. Aigoo…bagaimana dengan laporanku..”

Yoseob mengangkat bahu dan tetap berjalan sambil membawa notebook Hyejin. Hyejin terpaksa mengikuti Yoseob dengan kesal.

Ketika mereka berdua sudah duduk di bangku kantin, baru Yoseob mengembalikan notebook Hyejin. Hyejin menerima notebook itu dengan wajah cemberut lalu ia berniat kembali ke perpustakaan. Namun, Yoseob menarik tangan Hyejin sehingga Hyejin kembali duduk.

“Oppa….kumohon..aku tidak  bisa membuat laporan di sini, berisik sekali.” kata Hyejin memelas.

Yoseob tertawa. “Aku tidak menyuruhmu membuat laporan itu di sini Hyejin. Aku ingin kau makan siang. Aku tidak mau kau jatuh sakit, itu saja.”

“Tapi aku tidak lapar.” Hyejin tetap membantah.

“Kau tetap harus makan.” Yoseob kemudian memesankan makanan untuk Hyejin dan untuk dirinya sendiri.

Setelah makanan datang, akhirnya Hyejin memakan makanannya, ia tidak punya pilihan lain.

***

Hyejin duduk di bangku penonton dan memperhatikan penampilan Yoseob yang sedang melakukan gladi bersih untuk konser nanti malam. Hyejin tersenyum ketika melihat Yoseob tersenyum padanya.

Setelah selesai gladi bersih, Yoseob menghampiri Hyejin. “Ah, aku menjadi lebih bersemangat setiap kali melihatmu sedang melihat penampilanku. Bagaimana? Ada yang kurang dengan penampilanku?” tanyannya.

Hyejin menggeleng. “Tidak ada, aku pikir semuanya sempurna. Aku selalu suka melihatmu di atas panggung oppa.”

Yoseob tersenyum. “Kau nanti menonton konser kami kan? Hmm…tapi aku juga ingin kau menemaniku di backstage.”

“Aku akan memberimu semangat dari sini oppa, konser kalian pasti sukses, aku yakin itu.” Kata Hyejin mantab.

“Hmmm….” Yoseob lalu mencium bibir Hyejin dengan lembut. “Aku butuh sesuatu untuk menyemangatiku.” Ia lalu melanjutkan ciumnnya.

Hyejin membalas ciuman Yoseob dan melingkarkan tangannya di leher Yoseob. “Good luck oppa.” Bisik Hyejin mesra setelah Yoseob menghentikan ciumannya.

***

Setelah konser selesai, Hyejin langsung meninggalkan tempat duduk VVIP-nya kemudian pergi ke backstage. Ia ingin memberikan selamat pada mereka.

“Penampilan kalian sangat bagus oppa!! Kalian membuatku terpesona.” Kata Hyejin ceria.

“Benarkah? Gomawo Hyejin ah.” Kata Doojoon senang. “Kau tahu? Sebelum naik panggung kami sangat nervous melihat penonton yang begitu banyak.”

“Ya benar! Penontonnya tidak sebanyak konser pertama kami. Aku bahagia sekali!” Hyunseung berbicara dengan menggebu-gebu.

“Hmm..aku tidak menyangka kalau fans kita semakin bertambah.” Tambah Yoseob.

Hyejin tersenyum lalu memeluk Yoseob dengan mesra. “Selamat oppa, konser hari ini berhasil.”

Yoseob balas memeluk Hyejin dan mencium kepalanya. “Gomawa Hyejin. Ini semua berkat dukunganmu juga.”

***

Hyejin bergegas ke backstage setelah selesai menyanyikan lagu terakhir. Di sana ternyata sudah ada Yoseob yang menunggunya. Hyejin kemudian menghampiri Yoseob dan menjatuhkan dirinya di pelukan Yoseob.

“Sungguh..aku sangat lelah.” Kata Hyejin lirih.

Yoseob memeluk Hyejin erat lalu tertawa. “Sekarang sudah selesai kok, kau bisa beristirahat nanti.”

Hyejin mengangguk lalu kemudian melepaskan pelukannya dan memandang Yoseob. “Oppa… hari ini aku menginap di apartment-mu yah. Yunho oppa pasti sudah tidur, aku tidak mau membangunkannya.”

Yoseob tertawa lagi. “Araso. Kau seperti tidak pernah menginap di apartment-ku saja. Anggap saja rumahmu sendiri, kau boleh datang kapanpun juga kau mau. Ara?”

Hyejin tersenyum. “Gomawo Oppa.”

***

Sudah seminggu Hyejin merasakan badannya sangat lemas dan seperti tidak mempunya energi untuk melakukan segala sesuatu. Ia merasa pusing dan mual. Namun, ia berpikir kalau maagnya kambuh sehingga ia hanya meminum obat maag. Maag Hyejin memang sering kambuh karena ia jarang sekali memiliki waktu untuk makan.

Yunho bingung melihat Hyejin yang tidak bersemangat. Bahkan ketika sedang makan, Hyejin hanya mengaduk-aduk makananya tapa berniat untuk memakannya. Yunho akhirnya menegur Hyejin. “Hey, kenapa kau hanya mengacak-acak makananmu? Kenapa tidak kau makan?”

Hyejin tersentak kemudian meringis. “Aku tidak nafsu makan oppa. Akuu…” belum sempat Hyejin menyelesaikan kalimatnya, Hyejin merasakan mual lagi kemudian ia berlari ke kamar mandi. Ia mengeluarkan seluruh isi perutnya yang entah sudah terisi apa karena ia belum makan.

Yunho khawatir dan menghampiri Hyejin kemudian mengelus punggung Hyejin. “Kau kenapa Hyejin? Kau sakit?” tannyanya khawatir.

Hyejin menggenggam baju Yunho untuk menahan dirinya sehingga tidak jatuh. “Aku tidak tahu oppa. Aku hanya merasa lemas saja akhir-akhir ini. Mungkin aku masuk angin oppa.”

“Kalau begitu, hari ini kau tidak usah masuk sekolah saja, dan kau juga tidak boleh bekerja hari ini. Kau istirahat saja di rumah dan tidak boleh pergi ke mana-mana. Ara?!” kata Yunho dengan tegas.

Hyejin ingin membantah karena ia ada rekaman untuk album selanjutnya, namun akhirnya ia hanya mengangguk karena ia tahu dalam keadaan seperti ini ia tidak akan bisa rekaman.

Yunho lalu membantu Hyejin berjalan menuju kamarnya.

***

Sepulang sekolah Yoseob datang ke rumah Hyejin, ia khawatir karena hari ini Hyejin tidak masuk sekolah dan ia juga tidak mengangkat telepon darinya. Ia sadar kalau seminggu ini Hyejin kelihatan tidak bersemangat, mungkin ia sakit pikir Yoseob.

Yoseob sudah akrab juga dengan Yunho walaupun mereka berbeda perusahaan sehingga Yunho langsung mengijinkan Yoseob menemui Hyejin di kamarnya. Yoseob tidak terlihat kaget ketika Yunho memberitahunya kalau Hyejin sakit karena ia memang sudah menduga sebelumnya.

Yoseob kemudian menghampiri Hyejin yang sedang berbaring di tempat tidur dan membelai wajahnya dengan lembut.

Hyejin yang merasa ada tangan yang menyentuh wajahnya mengerjapkan matanya pelan. Ketika melihat itu Yoseob, Hyejin menggenggam tangan Yoseob yang sedang membelai wajahnya. “Oppa.. kenapa kau bisa ada di sini?”

Yoseob tersenyum. “Tentu saja menjengukmu. Aku khawatir karena kau tidak masuk sekolah dan kau juga tidak memberi kabar padaku, kau juga tidak mengangkat telepon dariku.”

Hyejin meringis kemudian ia duduk. “Oh mianhae oppa.. Mianhae sudah membuatmu khawatir. Aku tidak apa-apa. Hanya masuk angin saja.”

Yoseob menatap Hyejin dengan tatapan tidak percaya kalau Hyejin tidak apa-apa. “Kau yakin Hyejin? Wajahmu tidak menujukkan kalau kau tidak apa-apa. Kau sangat berantakan.”

“Ah, iyah, aku pasti terlihat sangat berantakan. Aigoo…” Hyejin lalu merapikan rambutnya yang kusut karena sedari tadi ia tidur terus.

Yoseob memeluk Hyejin. “Kau ini… Sudah istirahat lagi yah. Aku tidak suka melihatmu dalam keadaan seperti ini.”

Hyejin menggenggam tangan Yoseob sambil berbaring di tempat tidur. “Tapi, kau harus menemani aku di sini. Jangan pergi yah.”

Yoseob tersenyum. “Aku akan menemanimu di sini. Tidurlah.” Yoseob lalu membelai rambut Hyejin sampai Hyejin tertidur.

***

Setelah seminggu kemudian kondisi Hyejin juga masih lemah walaupun ia sudah beraktivitas seperti biasanya. Yoseob membujuknya ke dokter namun Hyejin tidak pernah mau. Akhirnya setelah berapa kali membujuk Hyejin mau juga memeriksakan dirinya ke dokter dengan dtemani oleh Yoseob.

Setelah Hyejin diperiksa, Hyejin dan Yoseob duduk di hadapan dokter itu. Yoseob langsung bertanya. “Dia sakit apa dokter?”

Dokter itu terlihat mencatat sesuatu lalu ia memandang Hyejin. “Apakah bulan ini anda sudah mendapat haid?” tanyannya.

Hyejin menggeleng pelan. “Belum dokter.”

“Kapan terakhir kali anda mendapat haid?” tanyannya lagi.

Hyejin terlihat mengingat-ingat. “Sepertinya bulan lalu saya masih mendapat haid.”

Dokter itu kemudian tersenyum dan memandang kedua orang di hadapannya bergantian. Kemudian ia memandang Yoseob. “Selamat yah sebentar lagi anda akan menjadi seorang ayah. Istri anda hamil 1 bulan.”

Yoseob dan Hyejin tidak bisa berkata apa-apa saking kagetnya. Wajah Hyejin terlihat pucat. “Apa dokter yakin?”

Dokter itu tersenyum. “Yah, saya yakin sekali.”

Hyejin lalu berlari keluar ruangan dokter itu. Yoseob mengucapkan terima kasih kepada dokter itu baru mengejar Hyejin. “Hyejin! Tunggu!”

Hyejin tidak mempedulikan panggilan Yoseob, ia berlari terus keluar rumah sakit. Yoseob akhirnya berhasil mengejar Hyejin ketika mereka berada di luar rumah sakit. “Hyejin!” Yoseob menarik tangan Hyejin sehingga Hyejin berada tepat di hadapannya.

Hyejin menangis histeris. “Aku..aku tidak hamil kan oppa?! Aku tidak mungkin mempunyai anak kan?! Bilang kalau semua yang dokter itu katakan salah!”

Yoseob tidak berkata apa-apa ia menarik Hyejin ke pelukannya. “Tenanglah Hyejin..” Hyejin terisak di pelukan Yoseob.

***

Yoseob menghempaskan tubuhnya di atas ranjang. Ia memejamkan matanya dan meremas rambutnya. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Hasil pemeriksaan tadi benar-benar membuatnya stress, bagaimana mungkin Hyejin bisa hamil. Memang beberapa kali mereka sering berhubungan, namun ia tidak pernah memikirkan akibatnya. Ia tidak tahu harus berbuat apa.

Yoseob lalu bangun dan duduk. Ia merasa harus bertanggung jawab karena ia yakin anak yang ada di dalam kandungan Hyejin adalah anaknya. Sewaktu pertama kali berhubungan dengannya Hyejin masih virgin. Ia akan menikahi Hyejin. Ia tidak peduli dengan sekolahnya, lagipula ia mencintai Hyejin jadi tidak apa kalau menikahinya sekarang, pada akhirnya mereka juga pasti akan menikah.

Yoseob mengambil hp nya berniat menelpon Hyejin namun Hyejin sudah menelponnya duluan. “Ya, Hyejin. Aku baru saja ingin menelponmu.”

“Oppa..bisakah kita bertemu. Ada yang ingin aku bicarakan denganmu.” Kata Hyejin lirih. Yoseob tahu kalau ini sangat berat buat Hyejin.

“Ya, aku juga mau bicara denganmu. Sebentar lagi aku jemput kamu yah.”

“Tidak usah oppa. Biar aku saja yang datang ke apartmentmu. Sampai nanti oppa.” Hyejin lalu menutup telponnya dan bergegas menuju apartment Yoseob.

***

Tidak lama kemudian Hyejin sudah sampai di apartment Yoseob. Yoseob ketika melihat Hyejin langsung memeluknya, namun Hyejin melepaskan pelukannya dan berjalan lalu duduk di tempat tidur Yoseob. Yoseob menutup pintu apartment nya lalu duduk di sebelah Hyejin.

“Kenapa Hyejin?” tanya Yoseob lembut.

Hyejin diam sebentar baru kemudian ia berata lirih. “Oppa..aku… Ehmm..bagaimana kalau kita gugurkan kandunganku. Aku belum siap untuk jadi seorang ibu. Aku masih ingin sekolah dan aku masih punya karir oppa, aku tidak mau meninggalkan itu semua sekarang oppa. Mianhae…”

Wajah Yoseob mengeras. “Tidak! Aku tidak akan pernah mengijinkanmu melakukan aborsi! Aku tidak mau membunuh anakku sendiri!”

“Tapi oppa..aku tidak mungkin melahirkan anak ini! Apa kata orang nanti?! Karirku akan hancur oppa!” teriak Hyejin.

“Hyejin…kita menikah saja. Aku akan bertanggung jawab Hyejin, aku mencintaimu. Aku akan menikahimu.” Kata Yoseob lembut.

“Apa?! Kau bilang menikah?!” Hyejin tertawa sinis. “Oppa kau jangan bercanda. Kita tidak mungkin menikah, kita masih belum lulus sekolah oppa, dan lagi aku harus bilang apa sama Yunho oppa.”

“Bilang saja yang sebenarnya pada Yunho hyung, ia tidak akan marah padamu Hyejin. Ia sangat meyayanginmu, kau tahu itu.” Kata Yoseob.

Hyejin terdiam lalu ia bicara lagi. “Mianhae oppa. Aku tidak bisa menikah denganmu. Aku ingin menggugurkan anak ini. Dengan atau tanpa persetujuanmu!” Hyejin lalu beranjak pergi.

Yoseob menarik tangan Hyejin menahannya pergi. “Tidak!! Hyejin..kumohon jangan gugurkan anak itu. Aborsi itu bahaya Hyejin. Itu bisa membunuhmu juga. Aku tidak akan mengijinkanmu!” wajah Yoseob memerah menahan amarah.

Hyejin menjatuhkan dirinya sehingga ia terduduk di lantai. Ia menangis terisak-isak sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan. “Kau tega oppa.. kau tahu kan kalau impianu itu menjadi seorang penyanyi. Kau tega merusak impianku oppa. Kau jahat!! Oppa masih bisa menjadi seorang penynyi kalau kita menikah, tapi aku tidak bisa oppa!”

Yoseob menatap Hyejin sedih. Ia mendekati Hyejin lalu memeluknya. “Mianhae Hyejin ah..mianhae…” bisik Yoseob lirih.

***

Akhirnya Hyejin memutuskan untuk menjalani hari seperti biasanya, masalah kehamilannya masih bisa ia tutupi karena kehamilannya baru berusia 1 bulan sehingga belum terlihat. Hyejin masih berangkat ke sekolah seperti  biasa, dan ia juga belum menceritakan masalah ini pada Yunho.

“Hyejin…” panggil Yoseob ketika Hyejin sedang berjalan menuju kelasnya.

Hyejin menoleh lalu tersenyum tipis. Yoseob menjajari langkah Hyejin menuju kelasnya. “Bagaimana keadaanmu hari ini? Sudah lebih baik?”

“Yah seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja kan.” Kata Hyejin cuek.

Yoseob menghela nafas letih. “Hyejin…jangan mengacuhkan aku. Aku tahu aku egois. Aku hanya tidak ingin kau melakukan aborsi.”

Hyejin secara reflek langsung menutup mulut Yoseob. “Oppa…jangan ngomong di sini, nanti kalo ada yang denger gimana.” Hyejin berkata dengan kesal.

Yoseob melihat kanan-kiri. “Ups..mianhae.. aku lupa Hyejin..” Yoseob meringis.

Hyejin berjalan lagi diikuti Yoseob. “Oppa..beri aku waktu untuk berpikir. Bolehkah?”

Yoseob mengangguk kemudian tersenyum. “Tentu saja. Tapi kau harus tahu Hyejin, aku selalu ada kapanpun kau membutuhkan aku. Jadi, jangan bertindak bodoh. Ara?”

Hyejin kemudian mengangguk. Mereka berdua sudah sampai di depan kelas Hyejin. Yoseob lalu mencium bibir Hyejin sebelum ia pergi dari situ. “Jalka..”

Hyejin tertegun sejenak di depan kelas sebelum ia masuk ke dalam kelas.

***

Hyejin memejamkan matanya berharap ketika ia membuka matanya ini semua adalah mimpi. Namun, ia tahu itu semua tidak mungkin. Hyejin tahu kalau bayi ini adalah hasil dari cintanya dan Yoseob, tapi ia merasa belum siap menikah dan menjadi seorang ibu. Ia sangat menyukai profesinya menjadi seorang penyanyi. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan.

Tiba-tiba ia memikirkan sesuatu, ia bergegas bangun dari tempat tidurnya dan membuka laci di meja belajarnya dan menemukan sebotol obat tidur. Hyejin memandang obat tidur itu dengan penuh pertimbangan.

“Hyejin…aku masuk yah.” Yunho membuka pintu kamar Hyejin.

Hyejin terlonjak lalu buru-buru melempar botol obat tidur itu ke dalam laci dan menutupnya. “Yunho oppa. Kau mengagetkan aku saja. Ada apa?”

Yunho meringis. “Mianhae… Aku mau pinjam notebook mu untuk membuat tugas, notebook-ku lagi diservice.”

Hyejin lalu mengambil notebook yang ada di meja belajarnya lalu memberikannya pada Yunho.

“Kau sedang tidak menggunakannya kan? Jadi, tidak apa kan kalau aku memakainya?” tanya Yunho lagi.

Hyejin menggeleng pelan. “Gwenchana oppa, aku sedang tidak menggunakannya sekarang. Kau pakai saja oppa.” Hyejin tersenyum.

“Baiklah kalau begitu. Gomawo Hyejin ah.” Yunho lalu pergi dari kamar Hyejin.

Hyejin menghela nafas lega, lalu mengambil botol obat itu dan menggenggamnya. Hyejin lalu duduk di tempat tidurnya dan menyenderkan tubuhnya lalu memandangi botol itu. Ia berpikir apakah yang akan ia lakukan ini benar.

Hyejin lalu duduk dan membuka botol itu lalu menuang semua isinya ke tangan. Setelah berpikir beberapa lama ia memasukan semuanya ke dalam mulutnya.

Tiba-tiba Yoseob membuka pintu kamar Hyejin dan melihat apa yang dilakukan Hyejin. Yoseob langsung menghampiri Hyejin dan menyuruh Hyejin memuntahkan semua obat itu.

“Hyejin!! Jangan ditelan, keluarkan semuanya!” Yoseob menekan pipi Hyejin supaya mulutnya bisa terbuka.

Hyejin menggeleng, ia tetap berusaha untuk menelan semua obat itu, namun karena terlalu banyak agak sulit untuk menelannya.

“Hyejin!! Jangan main-main! Cepat keluarkan!” Yoseob semakin panik.

Hyejin menggeleng lagi dan memegang tangan Yoseob supaya melepaskannya. Namun, karena ada beberapa obat itu yang sudah tertelan olehnya, tenaga Hyejin semakin melemah. Lalu Hyejin kehilangan kesadarannya.

“Ya Tuhan Hyejin!” Yoeob lalu berusaha mengeluaran sisa obat tidur yang belum tertelan oleh Hyejin lalu mengangkat tubuh Hyejin dan membawanya ke rumah sakit.

***

Yoseob langsung menghampiri dokter setelah dokter itu selesai memeriksa Hyejin. “Bagaimana keadan Hyejin dok?”

Dokter menghela nafas. “Untunglah ia tidak apa-apa, bayi dalam kandungannya juga selamat. Tapi sekarang ia masih belum sadar, pengaruh obat tidur yang ia minum masih ada.”

Yoseob menghela nafas lega. “Syukurlah kalau begitu. Gansahamnida dokter.”

Dokter mengangguk lalu meninggalkan Yoseob. Yoseob langsung masuk ke kamar tempat Hyejin di rawat dan menghampirinya. Yoseob membelai wajah Hyejin lembut dan menggenggam tangannya. “Kau tidak menepati janjimu Hyejin untuk tidak melakukan hal bodoh. Kau hampir membunuhku karena khawatir.”

Yoseob menunggu di situ sampai Hyejin sadar keesokan harinya. “Hai.. kau sudah sadar? Syukurlah Hyejin.”

Hyejin menghembuskan nafas kesal. “Kenapa? Kenapa tidak kau biarkan saja aku dan bayi di dalam kandunganku ini mati?”

“Hyejin…aku tidak akan pernah membiarkan kau ataupun bayi kita mati. Ara?!” kata Yoseob tegas. “Aku mencintaimu Hyejin. Bagaimana mungkin aku bisa membiarkanmu mati.”

“Kalau kau mencintaiku, kau akan membiarkan aku melakukan aborsi oppa.” Hyejin berkata lemah.

“Apa kau bilang? Aborsi?! Apa yang sedang kalian bicarakan?!” tiba-tiba Yunho masuk ke dalam kamar perawatan Hyejin. Tidak sengaja Yunho sudah mendengar separuh pembicaraan mereka.

Hyejin dan Yoseob terdiam dan wajah mereka berdua terlihat pucat. Hyejin menatap Yoseob meminta pertolongan.

Yunho menatap tajam ke arah Hyejin lalu berganti ke arh Yoseob. “Hyejin!! Jujur padaku apa yang kalian bicarakan tadi!”

“Hyung…kami..”

“Diam kau Yoseob! Aku sedang tida bertanya padamu! Aku bertanya pada Hyejin!” Yunho lalu menatap Hyejin lagi. “Jawab Hyejin!!” bentaknya.

Hyejin menunduk lalu menangis, ia tidak berani menatap wajah Yunho. Hyejin tahu Yunho marah besar dan Yunho akan bertambah marah jika ia menjelaskan semuanya. “Yunho oppa.. mianhae.. mianhae…”

Yunho menelan ludah, ia selalu merasa tidak tega jika melihat Hyejin menangis. Lagipula ia sudah berjanji pada kedua orangtuanya akan menjaga Hyejin dengan baik dan tidak akan membuatnya menangis. Namun, ia tidak bisa terlalu memanjakan adiknya terus, ia tahu ada sesuatu yang disembunyikan oleh adiknya dan ia harus tahu itu.

“Hyejin, katakan padaku apa yang terjadi. Aku tahu kau menyembunyikan sesuatu dariku.” Suara Yunho mulai melembut.

“Aku..aku hamil oppa.” Kata Hyejin sambil terisak. Dan Hyejin sudah siap menerima kemarahan Yunho yang lebih besar lagi.

“Apa kau bilang? Kau hamil?!” Yunho lalu menatap Yoseob yang sedang menunduk. Yunho lalu meremas rambutnya kesal. “Oh my God Hyejin. Kenapa kau menyembunyikan hal ini dariku?! Siapa ayah bayi itu?!” Yunho lalu sadar ia tidak perlu bertanya. “Oh aku tahu!”

Yunho lalu menghampiri Yoseob lalu memukul wajah Yoseob dengan keras. “Kau keterlaluan Yoseob!!”

Hyejin berteriak lalu ia bangun dan menahan Yunho memukul Yoseob terus. “Yunho oppa, jangan pukul Yoseob oppa terus. Ini bukan salah Yoseob oppa sepenuhnya, aku juga salah oppa, Yunho oppa pukul aku saja.”

“Aku sangat kecewa padamu Hyejin. Aku tidak pernah punya adik sepertimu Hyejin.” Kata Yunho lirih lalu pergi dari situ.

“Yunho oppa!!” Hyejin menutup kedua wajahnya. “Mianhae oppa..mianhae…”

Yoseb mendekati Hyejin lalu memeluk tubuhnya.

***

Setelah beberapa hari Hyejin sudah diperbolehkan pulang ke rumah, namun sejak hari itu Yunho tidak pernah menjenguk Hyejin lagi. Hyejin jadi takut untuk pulang ke rumah.

“Yoseob oppa, aku tidak mau pulang ke rumah. Yunho oppa pasti masih marah denganku.” Hyejin menggigit bibir bawahnya.

“Hmmm…bagaimana kalau sementara ini kau tinggal di apartment-ku?”

Hyejin terlihat berpikir namun akhirnya ia mengangguk. Ia sudah tidak punya pilihan lain, tidak mungkin ia tidur di jalanan.

Yoseob tersenyum. “Ayo.”

***

Hyejin menghampiri Yoseob yang sedang sibuk dengan notebook-nya. Ia lalu duduk di hadapan Yoseob. “Oppa, aku mau bicara. Kau sedang sibuk?”

Yoseob menggeleng lalu menutup notebook-nya. Ia memandang Hyejin dengan lembut. “Ada apa Hyejin?”

Hyejin meremas-remas tangannya gelisah. “Aku..aku mau menikah denganmu oppa.” Hyejin lalu menunduk tidak berani memandang wajak Yoseob.

Yoseob memandang Hyejin bingung kemudian ia tersenyum. Yoseob lalu bangun dan memeluk tubuh Hyejin mesra. “Akhirnya Hyejin, kau mau juga menikah denganku. Kau tahu? Aku sudah menunggu kalimat itu keluar dari bibirmu.” Yoseob lalu mencium bibir Hyejin dan Hyejin membalas ciuman Yoseob.

“Mianhae oppa sebelumnya aku sangat egois. Sekarang aku sadar mana yang lebih penting bagiku. Aku akan melepaskan impianku dan karirku. Aku akan berhenti bernyanyi dan menjadi istrimu sekaligus ibu rumah tangga yang baik.” Hyejin tersenyum.

Yoseob begitu bahagia mendengar perkataan Hyejin. “Hyejin…kau pegang janjiku. Aku akan membuatmu menjadi wanita paling bahagia dan aku tidak akan pernah membuatmu sedih.”

Hyejin tersenyum lagi. “Aku mencintaimu oppa.” Bisiknya.

Yoseob mencium bibir Hyejin lagi. “Yah, aku juga sangat mencintaimu.”

***

Keesokan harinya Hyejin pulang ke rumah tanpa sepengetahuan Yoseob. Ia ingin menemui Yunho dan meminta restu dari Yunho. Biar bagaimanapun Yunho adalah kakakknya dan ia satu-satunya keluarga yang ia miliki saat ini.

“Yunho oppa..” Hyejin berdiri di depan pintu kamar Yunho dan memanggil Yunho.

Yunho tidak menoleh ke arahnya dan tetap sibuk dengan pekerjaannya.

Hyejin menghela nafas lalu masuk ke dalam kamar Yunho dan berdiri di dekat Yunho. “Yunho oppa..aku mau bicara sebentar.”

“Bicara saja.” Kata Yunho ketus dan cuek.

Tenggorokan Hyejin tercekat, hatinya sedih, oppa nya tidak pernah berbicara seperti itu padanya. “Aku..aku ingin minta maaf oppa. Aku tahu aku salah. Aku telah membuatmu kecewa dan aku tidak pantas menjadi adikmu. Aku minta maaf oppa.”

Melihat Yunho diam saja Hyejin semakin sedih, ia kemudian berlutut di sebelah Yunho duduk. Hyejin memeluk kaki Yunho. “Yunho oppa…mianhae…nomu mianhae.. Kau boleh pukul aku, pukul aku oppa, tapi jangan mengacuhkan aku.”

Hati Yunho lama kelamaan luluh melihat Hyejin berlutut padanya dan memeluk kakinya seperti ini. Ia kemudian berlutut juga dan memeluk Hyejin.

Agak lama mereka saling berpelukan dan menumpahkan perasaan mereka.

Yunho lalu melepaskan pelukannya dan memandang Hyejin, ia menghapus air mata di wajah Hyejin. “Jangan menangis lagi, aku sudah memaafkanmu. Biar bagaimanapun kau adalah adikku dan aku menyayangimu.”

Hyejin memeluk Yunho lagi. “Gomawo Yunho oppa. Gomawo…”

Yunho tersenyum. “Selain itu kau juga akan memberitahu kabar gembira kan?”

Hyejin mengangguk. “Aku akan menikah dengan Yoseob oppa. Aku tida jadi melakukan aborsi oppa.”

Yunho membelai rambut Hyejin dengan lembut. “Ternyata kau akan mendahuluiku menikah. Tidak apa, aku merestuimu kok. Menikahlah Hyejin, aku ingin kau bahagia.”

“Gomawo Yunho oppa.. Gomawo..” Hyejin memeluk Yunho dengan erat.

***

FIN

 
Leave a comment

Posted by on 2011/03/16 in FF

 

[straight/NC 17] My Nerd Boy

Title : My nerd boy

Cast : Jung Yunho, Choi Hyejin, Kim Junsu, Han SangMin

Author : Christy

[Author POV]

Lagi-lagi untuk yang kesekian kalinya Hyejin memutuskan pacarnya. Entah pacar yang ke berapa.

”Mianhae..aku tidak bisa pacaran denganmu lagi. Aku sudah tidak menyukaimu.” kata Hyejin cuek.

Pria itu agak kaget dan sedih. ”Tapi aku masih menyukaimu Hyejin. Jangan memutuskanku begitu saja donk.” katanya sedih.

”Mian..kau cari saja gadis lain. Kau pantas mendapatkan yang lebih baik dariku.” Hyejin lalu pergi meninggalkan pria tersebut.

***

”Apa?!! Kau putus lagi?!” teriak SangMin yang langsung dibekap mulutnya oleh Hyejin. Semua anak di kelas memperhatikan mereka, terlebih memperhatikan Hyejin. Hyejin memang dikenal sebagai playgirl di sekolah yang sering mempermainkan hati para lelaki. Namun, tetap saja banyak laki-laki bodoh yang masih mendekati Hyejin.

”Kau tidak bisa berbicara pelan-pelan yah. Lihat..!! Semua orang jadi memperhatikan kita.” Hyejin menggerutu.

SangMin kali ini berbicara seperti berbisik. ”Kau serius Hyejin? Putus lagi? Yang benar saja..ini sudah pria ke berapa sih yang kau campakan?” SangMin menggelengkan kepalanya.

Hyejin terlihat menghitung-hitung. ”Sepertinya sih yang ke-23. Aku tidak tahu pasti.” Hyejin meringis. ”Aku tidak suka dengan pria ini. Ia terlalu posesif padaku, sering mengaturku.” Hyejin mendengus.

”Tapi Hyejin. Aku pikir kau cocok dengannya. Habis kalian terlihat mesra setiap saat. Ternyata, kau campakan juga.” Sangmin menghela nafas panjang. ”Sebenarnya pria seperti apa sih yang tidak akan kau campakan?”

Pertanyaan Sangmin ini menggelitik hati Hyejin. Ia sudah sering berpacaran tapi tidak pernah menemukan pria yang pas di hatinya. Ia mudah jatuh cinta tapi mudah juga bosan. Sampai saat ini belum ada pria yang tidak membuatnya bosan. Hyejin penasaran, pria seperti apa yang akan menjadi cinta terakhirnya.

”Entahlah.. Aku juga tidak tahu Sangmin..” Hyejin tertawa. ”Yah..aku kan juga berbaik hati. Tidak ada pria yang kutolak ketika memintaku jadi pacarnya. Aku mencoba loh menyukai mereka, tapi kalau aku bosan, masa aku harus mempertahankannya. Menyiksa diri donk itu namanya.”

”Yah tapi kau keterlaluan juga sih. Makanya coba berubah jadi gadis cupu saja, supaya tidak ada yang mendekatimu lagi.” kata Sangmin bercanda.

Hyejin tertawa terbahak-bahak. ”Boleh juga tuh idemu. Sekali-sekali boleh dicoba. Atau apa aku coba mendekati pria cupu aja yah. Ada tantangannya.” ia tertawa lagi.

Sangmin memandang Hyejin tidak mengerti. ”Maksudmu si Jung Yunho itu? Pria kutu buku yang selalu menghabiskan waktunya di perpustakaan? Ya ampun Hyejin..kau bisa diajak kencan di perpustakaan nanti.” Sangmin tertawa terbahak-bahak.

Hyein ikut tertawa. ”Boleh juga tuh. Kencan model baru.”

Tawa mereka berhenti ketika orang yang dibicarakan lewat di depan mereka. Ia baru dari perpustakaan dan kembali ke kelas karena pelajaran akan dimulai lagi. Benar saja, tidak lama sonsaengnim masuk ke kelas.

***

[Hyejin POV]

Istirahat siang ini aku menghabiskan waktuku di perpustakan untuk mencari buku bahan paperku. Malas sekali mencari buku, karena aku memang tidak terbiasa membaca buku. Untung saja ada Junsu yang menemaniku sehingga aku tidak terlalu bosan.

”Hyejin..tumben sekali nih ke perpus..” Junsu tertawa.

”Berisik ahh..lebih baik kau bantu aku mencari buku.” kataku ketus.

Salahku karena mencari buku di tempat yang agak pojok di perpustakaan, jarang ada orang yang ke daerah sini. Junsu jadi mempunyai kesempatan untuk mendekatiku. Tiba-tiba saja Junsu sudah mencium bibirku dengan lembut.

Aku mendorong pelan tubuhnya. ”Hey..jangan mencuri kesempatan. Kau ingat? Kita sudah putus.” kataku berbisik.

Junsu tertawa pelan. ”Tapi aku masih menyukaimu Hyejin..” ia mencium bibirku lagi. Kali ini sambil memeluk tubuhku erat. Mau tidak mau aku membalas ciumannya karena Junsu akan terus memaksa.

Perlahan Junsu mendorongku sampai aku menghimpit rak buku. Ia menciumku lagi dengan lembut. Aku melingkarkan tangan di lehernya. ”Lihat..kau juga menikmati ciumanku.” kata Junsu.

Junsu kemudian mencium leherku. Aku mengerang. ”Hey..jangan seperti ini Junsu. Kau curang!!”

Junsu tetap mencium leherku. Aku bisa merasakan hembusan nafasnya di leherku yang membuatku tidak tenang. Ia mulai membuka kancing baju seragamku. Aku menahan tangannya namun aku kalah dengan godaanya.

Ketika ciuman Junsu turun dengan perlahan. Kami dikagetkan oleh dehaman seseorang. Aku langsung mendorong Junsu dan mengancingkan baju seragamku dan merapikan pakaianku. Wajahku sudah merah padam karena malu.

Aku merasa lebih malu ketika tahu yang memergoki kami adalah Jung Yunho. Aku tergagap. ”Eh maaf..” kataku.

Yunho tetap memasang tampang cool nya. ”Aku hanya kebetulan ke sini ingin menaruh buku yang tadi kubaca. Maaf mengganggu keasikan kalian.” setelah menaruh buku itu di rak ia kemudian beranjak pergi. ”Sudah..silakan lanjutkan.” katanya datar.

Junsu menatapku, aku masih bisa melihat sorot matanya yang masih menginginkan aku. Aku menghela nafas. ”Maaf Junsu. Aku harus kembali ke kelas. Dan ingat, kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi.”

”Tapi aku lihat setelah seminggu putus denganku, kau masih belum pacaran dengan pria lain. Aku masih punya kesempatan kan untuk bersamamu. Atau kalau kau butuh aku untuk menemanimu, aku siap menemanimu kapanpun juga.” kata Junsu.

Aku hanya menghela nafas. ”Terserah kau Junsu. Tapi ketika aku pacaran lagi, tolong jauhi aku. Araso?!” kataku sebelum pergi. ”Ohya satu lagi. Tolong jangan menggodaku di tempat umum.”

Junsu tertawa. ”Araso Hyejin ah..”

***

Karena kejadian kemarin, aku malu sekali kalau bertemu dengan Yunho. Ia pasti berpikir kalau aku gadis rendahan. Tapi kenapa aku peduli dengan apa yang dia pikirkan, memangnya siapa dia. Ah, aku menjadi aneh.

Ketika aku masuk kelas pagi-pagi, aku kaget sekali ketika melihat hanya ada Yunho di dalam kelas, ia sedang membaca buku tebal, entah buku apa. Aku menunduk merasakan wajahku memerah. Ah, bagaimana ini, apa yang harus kulakukan.

Akhirnya aku menyapanya. ”Annyeong. Pagi sekali kau datangnya.” kataku berusaha terlihat ramah.

Ia mengangkat wajahnya dari buku tebal itu kemudian memandangku sekilas. ”Annyeong.” balasnya singkat dan datar kemudian kembali sibuk dengan bukunya.

Aku agak kesal karena baru kali ini ada seorang pria yang mengacuhkan aku. ”Eh itu..yang kemarin. Kau jangan berpikiran macam-macam yah.” kataku agak malu.

Ia menatapku dengan bingung. ”Oh..itu tidak ada urusannya denganku. Aku tidak peduli kau mau melakukan hal itu dengan siapapun.” katanya cuek. ”Ohya, kau tenang saja. Aku tidak akan memberitahukan pada siapa-siapa.”

Aku tertegun sejenak. Entah kenapa ada perasaan aneh ketika ia berkata seperti itu. Aku kemudian tidak berbicara lagi dan duduk di kursiku.

***

Ketika aku sedang latihan bermain piano di ruang musik di sekolah, tiba-tiba ada yang memelukku dari belakang.

”Hyejin ah..aku mencarimu ke mana-mana, ternyata kau ada di sini.” kata Junsu sambil mencium bagian belakang leherku.

”Ugh Junsu..jangan seperti ini. Aku sedang latihan.” kataku malas.

Junsu tetap menciumi leherku dan malah mengeluarkan lidahnya. Aku bergidik geli.

”Junsu..kumohon. Aku sedang tidak mood melakukannya. Aku harus latihan Junsu!” ucapku letih.

Tanpa kuduga ternyata sedari tadi ada seorang lagi di ruangan itu. ”Hey! Dia suda bilang tidak mau melakukannya, kenapa kau tetap memaksanya?” katanya sinis.

Junsu menghentikan aktivitasnya kemudian menghela nafas. ”Ah kau tidak usah munafik deh. Walaupun kau itu kutu buku, tapi aku yakin kalau kau juga ingin menikmatinya kan.” Junsu mendengus. ”Bagaimana kalau kita menikmati tubuhnya berdua?” katanya bandel.

Aku menatap wajah Junsu kaget. Aku tidak percaya Junsu bisa berkata seperti itu. Sakit sekali hatiku mendengar perkataannya. Aku memandang Yunho, ingin tahu apa reaksinya.

Aku tidak percaya dengan pengelihatanku. Seketika itu juga, Yunho memukul wajah Junsu. ”Jaga mulut busukmu itu! Aku memang kutu buku, tapi setidaknya aku tahu bagaimana cara memperlakukan wanita. Tidak seperti kau. Dasar laki-laki pervert!” katanya.

Junsu mendengus kesal. Ia ingin membalas pukulan Yunho, tapi dengan sigap Yunho menangkisnya. Junsu tidak mau mengalami malu lagi akhirnya ia pergi dari situ.

Aku menghela nafas lega. Aku pikir akan terjadi perkelahian di sini. Aku kemudian menatap Yunho penuh rasa terima kasih. ”Gomawo Yunho… Gomawo sudah menolongku.” kataku.

Ia memandangku. ”Aku tidak menolongmu. Hanya saja aku malas kalau harus melihat kalian berdua bmelakukan hal tidak senonoh di sini, karena ini tempatku membaca buku dengan tenang.”

Aku terperangah. ”Kau sering membaca buku di sini? Aku juga sering latihan piano di sini, tapi aku tidak pernah melihatmu.” kataku heran.

”Tentu saja kau tidak melihatku. Aku duduk di balik peralatan-peralatan musik itu.” ia tertawa. ”Aku sering mendengarkan permainan pianomu. Bagus. Sayang perilakumu tidak mencerminkan permainan mu yang indah.” katanya penuh sesal.

Aku menunduk malu. Tapi kemudian aku menatapnya. ”Yunho, apakah kau mau menolongku?”

Yunho agak heran mendengarku meminta tolong padanya. ”Kau mau minta tolong apa padaku? Aku tidak bisa apa-apa selain membaca.”

Aku tersenyum. ”Kali ini, hanya kau yang bisa menolongku. Jadilah pacarku Yunho. Kalau kau menjadi pacarku, maka Junsu tidak akan menggangguku lagi. Aku letih harus menanggapinya terus.” aku menghela nafas panjang.

Yunho semakin kaget. ”Apa maksudmu? Kau mau memanfaatkan aku? Si kutu buku ini untuk menjadi pacarmu?” tanyanya agak marah.

Aku meringis. ”Tolonglah Yunho. Aku tahu, kau tidak suka denganku, maka dari itu aku meminta tolong padamu. Jika aku meminta tolong dengan pria lain, ia pasti meminta suatu imbalan dariku.” kataku sedih.

Yunho akhirnya setuju. ”Baiklah.. Tapi, apakah kau tidak malu pacaran denganku? Aku bukan tipe-tipe seperti mantan pacarmu yang banyak itu.”

”Aku tidak peduli.” kataku mantap. Ia kemudian mengangkat bahu dan pergi dari situ.

***

Sejak itu aku sering menghampiri Yunho yang sendirian, menemani ia membaca buku di perpustakaan. Walaupun terkadang aku bosan, karena ketika Yunho sedang membaca buku, ia tidak akan menanggapiku. Yunho juga selalu menolak ketika aku mengajaknya jalan.  Banyak desas-desus yang membicarakan hubunganku dengan Yunho. Namun, aku tidak peduli dengan perkataan mereka.

”Hyejin..kau serius pacaran dengan si kutu buku itu?” kata Sangmin ketika mereka berada di kelas berdua.

Hyejin tertawa. ”Tentu saja tidak. Aku hanya menjadikannya tameng agar Junsu tidak mendekatiku lagi. Yunho juga sudah tau alasanku ini, ia hanya menolongku.” aku menceritakan semuanya pada Sangmin.

”Tapi..apa kau tidak takut ia jatuh cinta padamu. Atau..malah sebaliknya, kau yang jatuh cinta dengannya.” kata Sangmin menggoda.

Aku tertawa lagi. ”Sangmin..sangmin..ia tidak mungkin jatuh cinta denganku. Baginya, aku hanya gadis rendah yang senang berganti-ganti pacar. Dan aku juga tidak mungkin jatuh cinta dengannya. Kau tahu kan tipe pria yang kusuka.”

”Yah jangan sampai kau kena karma Hyejin..” kata Sangmin akhirnya.

Aku dan Sangmin tidak sadar kalau ada orang lain yang mendengarkan percakapan mereka, yang tidak lain adalah Yunho.

***

Aku bangun pagi-pagi sekali hari ini untuk membuat cake. Hari ini adalah hari valentine. Karena sekarang yang menjadi pacarku adalah Yunho, maka aku membuat cake untuknya.

Selagi membuat cake itu, aku berpikir. Apakah aku menyukai Yunho. Sudah hampir 2 bulan aku pacaran dengannya. Tidak ada yang spesial memang. Namun, dibanding pria lain yang hanya mencari keuntungan dariku, ia tipe pria yang baik. Tiba-tiba saja wajahku memerah, aku langsung menggelengkan kepala.

Setelah selesai membuat kue, aku langsung mandi dan siap-siap ke sekolah. Sekarang masih jam 7 lewat, kelas mulai jam 8, tapi Yunho pasti sudah ada di sekolah sekarang. Aku kemudian berangkat ke sekolah.

Benar saja, Yunho sudah duduk di kursinya sambil membaca buku tebal lagi. Pantas saja kacamatanya sangat tebal. Aku tersenyum pelan kemudian menghampirinya.

Aku memberikannya chocolate cake yang aku masukan dalam kotak transparan. ”Ini untukmu. Happy valentine Yunho.” kataku ceria. Aku meletakannya di atas buku tebal Yunho.

Yunho mendorong kotak itu. ”Untuk apa kau memberikan hadiah valentine padaku? Bukankah aku hanya alatmu? Aku kan bukan pacarmu yang sesungguhnya.” katanya tajam.

Aku terperangah mendengar perkataannya. ”Kenapa kau berkata seperti itu Yunho? Memangnya tidak boleh aku memberimu cake ini? Biar bagaimanapun kau kan pacarku.”

”Kau tidak harus memberikan hadiah pada pacarmu kan? Terlebih aku hanya tameng mu kan, supaya kau tidak diganggu Junsu? Belum selesai tugasku?” katanya sinis.

Aku shock dan sedih mendengar perkataanya. Tanpa sadar air mataku jatuh perlahan, aku belum pernah mendengar seorang pria mengatakan hal sekejam itu padaku. Hatiku sakit.

”Kau..kau tidak suka pacaran denganku? Kau..kau menolak hadiahku?” aku tertawa frustasi. ”Belum pernah aku merasakan hal ini. Tapi aku yakin, kau tidak akan menolak yang satu ini.” aku kemudian membuka kancing seragamku perlahan-lahan. Aku tidak mengenakan pakaian dalam, sehingga langsung terlihat braku.

Ia kaget melihat aku melakukan hal itu. ”Bodoh!! Kancingkan kembali seragammu? Bagaimana kalau ada yang lihat?!!” katanya ketus. ”Aku tidak tertarik.”

Aku kemudian semakin mendekatinya dan duduk di pangkuannya. Aku mengelus dadanya perlahan, membuka kancing bajunya. Aku menggodanya, namun ia diam saja.

”Aku tidak tertarik dengan godaanmu Hyejin. Sudahlah hentikan, jangan kau merendahkan dirimu sendiri.” katanya lemah.

Aku kemudian berdiri dan mengancingkan kembali seragamku. Hatiku sakit, air mataku mengalir dengan deras. Ia menolakku, ia benar-benar tidak tertarik denganku. Aku kemudian berlari keluar kelas.

Yunho kemudian menghela nafas panjang. ”Dasar bodoh..” katanya lirih. Namun kemudian ia berdiri dan berjalan keluar kelas.

Aku berlari ke ruang musik. Di sinilah tempat pelarianku. Aku bisa menangis sepusanya di tempat ini. Aku terisak menumpahkan segala rasa sakit di hatiku. Aku belum pernah ditolak seperti ini. Biasanya semua pria akan berlomba-lomba untuk menjadi pacarku, mereka hanya mengincar tubuhku. Namun kali ini ketika aku menyerahkannya, aku ditolak.

Aku tidak menyadari kalau ada orang yang masuk ke dalam sini. Orang itu adalah Junsu. Ia mendekatiku. ”Kenapa menangis baby?” katanya lembut namun mengandung arti lain.

Aku mundur sedikit namun ternyata aku sudah merapat pada dinding. Aku memandangnya dan aku mengerti sorot mata yang sedang menatapku seperti ini.

”Tadi aku lihat ketika kau menggoda Yunho, dan ia menolakmu. Ternyata ada juga pria yang bisa menolakmu yah Hyejin.” ia tertawa. ”Baiklah, jika ia tidak mau menyentuhmu, biar aku yang melakukannya. Bagaimana?”

Aku berusaha menyembunyikan tubuhku tapi tidak bisa. Aku mendorong tubuhnya ketika ia mendekat ingin mencium bibirku. ”Junsu..kumohon. Jangan lakukan itu.”

Namun Junsu tidak perduli. Ia tetap menciumi leherku dan menyapunya dengan lidahnya. Aku menangis dan entah mengapa tiba-tiba aku memanggil nama Yunho. ”Jung Yunho!!” teriakku.

Tiba-tiba pintu ruang musik terbanting terbuka. ”Stop!! Jangan sentuh Hyejin!” katanya penuh marah.

Aku memandang pria itu. ”Yunho…” bisikku lirih.

Junsu mendengus kesal. ”Lagi-lagi kau mengganggu kesenanganku!” kali ini benar-benar terjadi perkelahian diantara kedua orang itu. Namun, tentu saja Yunho yang menang. Aku baru tahu kalau ternyata Yunho jago berantem. Junsu kemudian pergi dari situ.

Yunho menatapku yang duduk memeluk lutut, ia pun jongkok dan menatapku. ”Cake nya enak. Aku suka cake buatanmu tadi. Bisakah kau membuatkannya lagi untukku?” katanya.

Aku menatap Yunho bingung, kenapa tiba-tiba ia berbicara tentang cake tadi. Tapi aku senang ia memakan cake itu. Namun, aku sadar ia hanya suka cake buatanku bukan suka padaku.

”Mian..kau bilang aku tidak harus memberimu apa-apa.” aku menghela nafas panjang. ”Baiklah kalau kau tidak suka pacaran denganku, kita putus saja. Aku memang egois memanfaatkanmu seperti ini.” aku tertawa sedih. ”Aku memang tidak pantas mendapatkan pacar yang baik sepertimu.”

Yunho kemudian menarikku dalam pelukannya, aku tersentak. Yunho memelukku begitu erat sampai aku bisa merasakan debar jantungnya. ”Phabo! Siapa bilang aku ingin putus darimu? Harusnya aku yang berkata begitu. Aku yang cupu dan kutu buku ini mana pantas mempunyai pacar yang populer sepertimu. Popularitasmu bisa jatuh. Kemarin saja banyak gosip yang beredar.”

Aku melepaskan pelukannya dan menatap matanya. ”Aku tidak peduli dengan popularitasku. Aku letih dengan semua ini. Aku ingin menjadi seorang gadis biasa yang menjalin percintaan dengan seorang pria yang kucintai dan mencintaiku. Tapi..tidak ada pria yang mencintaiku dengan tulus, semua hanya ingin menikmati tubuhku. Aku benci tubuh ini Yunho..aku benci.” aku berteriak karena kesal.

Yunho menghapus air mataku. ”Kau salah Hyejin. Ada pria yang mencintaimu dengan tulus.”

Aku menatapnya bingung. ”Siapa?”

”Aku.” katanya tegas. ”Aku mencintaimu sejak 2 tahun yang lalu aku mendengarkan permainan piano mu di sini. Namun, aku kecewa karena ternyata sifatmu tidak mencerminkan keindahan permainanmu. Kau yang selalu berganti-ganti pacar setiap bulan tidak pernah sekalipun memandangku. Aku sering memperhatikanmu, namun kau tidak pernah sadar.” Ia menghela nafas. ”Sampai ketika aku memergokimu sedang bercumbu dengan Junsu di perpus. Darahku mendidih saat itu. Aku ingin menghajar Junsu pada saat itu tapi aku tahu itu tidak mungkin.”

Aku terperangah mendengarkannya. ”Kau..kau jatuh cinta padaku sejak 2 tahun lalu? Berarti..kau selalu mendengarkanku memainkan piano di sini?”

Yunho mengangguk. ”Yah..aku selalu membaca buku di sini, di tempat yang tidak terlihat olehmu. Beberapa kali aku ingin menyapamu, namun aku mengurungkan niatku.”

Aku tidak tahu harus berkata apa-apa lagi. ”Selama itu kau mencintaiku..” bisikku.

Yunho tersenyum. ”Aku tahu Hyejin…kau gadis baik sebenarnya. Namun, ada sesuatu yang membuatmu menutupi itu. Entah apa yang membuatmu memainkan peran gadis nakal. Permainan piano mu tidak menunjukkan kau gadis nakal Hyejin. Aku ingin mengenalmu lebih jauh..lebih dalam.”

Aku menangis. Namun, tangisku kali ini adalah tangis bahagia. Ternyata ada orang yang benar-benar mencintaiku dengan tulus. Aku hampir tidak percaya. Aku memeluk Yunho dengan erat.

”Aku..aku juga mencintaimu Yunho. Aku merasa bodoh karena baru menyadarinya sekarang. Mianhae..nomu mianhae Yunho..” kataku lirih.

Yunho menepuk punggungku halus. ”Gwenchanayo. Kalaupun kau tidak sadar, aku akan tetap mencintaimu dan memperhatikanmu. Saranghaeyo..” Yunho lalu memandangku. ”Boleh aku menciummu?” tanyanya polos.

Aku tersenyum. ”Tentu saja.” kemudian aku mencium bibirnya dengan lembut, ia agak kaget namun ia cepat membalas ciumanku itu.

Akhirnya aku menemukan pria idamanku. Pria yang mungkin tidak akan membuatku bosan. Aku akan banyak belajar banyak hal baru dan mengajarinya banyak hal baru supaya ia tidak hanya hidup di dunia buku.

***

FIN

 
2 Comments

Posted by on 2011/01/27 in FF

 
 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.