Hmm…lagi-lagi gw bikin FF gaje..wkwk… Kali ini gw lagi pengen pake Yoseob sebagai tokoh utama. Agak sulit sih, soalnya ini pertama kalinya gw pake Yoseob, sebelumnya kan gw selalu pake Yunho, Junsu, atau Changmin sebagai tokoh utama pria. Gw udah bisa dapet karakter mereka bertiga. Makanya di ff ini juga yang karakternya lebih keliatan yah si Yunho, daripada Yoseob..hehehe…
Tapi, lama-kelamaan gw pasti bisa nemuin karakter yang cocok buat Yoseob. So, enjoy this FF.. Please comment.. 
Title : Which one i must choose?
Cast : Yang YoSeob, Jung Hyejin, Jung Yunho
Author : Christy
[Author POV]
Siang hari ketika jam istirahat siang di sebuah sekolah, tempat yang menjadi favorite siswa/i adalah kantin. Hampir seluruh isi sekolah tumpah di kantin untuk menikmati makan siang mereka. Namun, ada beberapa orang yang memilih tetap di kelas atau ke tempat lain. Seperti gadis ini, ia terlihat berjalan menuju perpustakaan dengan membawa notebook-nya.
Ketika ia sedang mengerjakan sesuatu di notebook-nya, ada seorang pria yang diam-diam menghampirinya dan menutup matanya. Gadis itu tersenyum dan memegang tangan pria itu. “Jangan main-main oppa.. Aku sedang mengerjakan tugas.”
Pria yang bernama Yoseob itu tertawa lalu menarik tangannya kemudian duduk di kursi sebelah gadis yang tadi ditutup matanya oleh Yoseob. “Hmm..aku mencarimu ke mana-mana ternyata kau di sini. Kau tidak makan siang Hyejin?”
Hyejin menggeleng. “Aku tidak lapar. Lagipula aku harus segera menyelesaikan laporanku ini, besok harus dikumpul.”
Yoseob menggelengkan kepalanya. “Hei..kau tetap saja harus makan, bagaimana kalau kau jatuh sakit?”
Hyejin meringis nafas. “Tapi oppa..laporan ini harus ku selesaikan sekarang. Nanti sore aku ada pemotretan. Tidak tahu sampai jam brapa. Hmm..kau saja makan siang sana.”
Hyejin adalah seorang singer yang sedang naik daun sehingga banyak tawaran untuk pemotretan ini-itu. Ia menjadi sagat sibuk dengan pekerjaanya, yang membuat sekolahnya hampir terlantar. Begitu juga dengan Yoseob yang merupakan anggota dari satu boyband terkenal. Mereka berada di bawa agency yang sama dan pernah membintangi CF bareng dan tidak disangka mereka berdua berada di sekolah yang sama.
Yoseob kemudian mengambil notebook Hyejin kemudian berdiri. “Kau tetap saja harus makan. Aku tidak mau kau jatuh sakit. Ayo ke kantin.” Yoseob lalu berjalan.
Hyejin menggerutu pelan kemudian berdiri mengejar Yoseob. Ketika ia berhasil menjajari langkah Yoseob baru ia berbicara. “Oppa, kembalikan notebook-ku. Aigoo…bagaimana dengan laporanku..”
Yoseob mengangkat bahu dan tetap berjalan sambil membawa notebook Hyejin. Hyejin terpaksa mengikuti Yoseob dengan kesal.
Ketika mereka berdua sudah duduk di bangku kantin, baru Yoseob mengembalikan notebook Hyejin. Hyejin menerima notebook itu dengan wajah cemberut lalu ia berniat kembali ke perpustakaan. Namun, Yoseob menarik tangan Hyejin sehingga Hyejin kembali duduk.
“Oppa….kumohon..aku tidak bisa membuat laporan di sini, berisik sekali.” kata Hyejin memelas.
Yoseob tertawa. “Aku tidak menyuruhmu membuat laporan itu di sini Hyejin. Aku ingin kau makan siang. Aku tidak mau kau jatuh sakit, itu saja.”
“Tapi aku tidak lapar.” Hyejin tetap membantah.
“Kau tetap harus makan.” Yoseob kemudian memesankan makanan untuk Hyejin dan untuk dirinya sendiri.
Setelah makanan datang, akhirnya Hyejin memakan makanannya, ia tidak punya pilihan lain.
***
Hyejin duduk di bangku penonton dan memperhatikan penampilan Yoseob yang sedang melakukan gladi bersih untuk konser nanti malam. Hyejin tersenyum ketika melihat Yoseob tersenyum padanya.
Setelah selesai gladi bersih, Yoseob menghampiri Hyejin. “Ah, aku menjadi lebih bersemangat setiap kali melihatmu sedang melihat penampilanku. Bagaimana? Ada yang kurang dengan penampilanku?” tanyannya.
Hyejin menggeleng. “Tidak ada, aku pikir semuanya sempurna. Aku selalu suka melihatmu di atas panggung oppa.”
Yoseob tersenyum. “Kau nanti menonton konser kami kan? Hmm…tapi aku juga ingin kau menemaniku di backstage.”
“Aku akan memberimu semangat dari sini oppa, konser kalian pasti sukses, aku yakin itu.” Kata Hyejin mantab.
“Hmmm….” Yoseob lalu mencium bibir Hyejin dengan lembut. “Aku butuh sesuatu untuk menyemangatiku.” Ia lalu melanjutkan ciumnnya.
Hyejin membalas ciuman Yoseob dan melingkarkan tangannya di leher Yoseob. “Good luck oppa.” Bisik Hyejin mesra setelah Yoseob menghentikan ciumannya.
***
Setelah konser selesai, Hyejin langsung meninggalkan tempat duduk VVIP-nya kemudian pergi ke backstage. Ia ingin memberikan selamat pada mereka.
“Penampilan kalian sangat bagus oppa!! Kalian membuatku terpesona.” Kata Hyejin ceria.
“Benarkah? Gomawo Hyejin ah.” Kata Doojoon senang. “Kau tahu? Sebelum naik panggung kami sangat nervous melihat penonton yang begitu banyak.”
“Ya benar! Penontonnya tidak sebanyak konser pertama kami. Aku bahagia sekali!” Hyunseung berbicara dengan menggebu-gebu.
“Hmm..aku tidak menyangka kalau fans kita semakin bertambah.” Tambah Yoseob.
Hyejin tersenyum lalu memeluk Yoseob dengan mesra. “Selamat oppa, konser hari ini berhasil.”
Yoseob balas memeluk Hyejin dan mencium kepalanya. “Gomawa Hyejin. Ini semua berkat dukunganmu juga.”
***
Hyejin bergegas ke backstage setelah selesai menyanyikan lagu terakhir. Di sana ternyata sudah ada Yoseob yang menunggunya. Hyejin kemudian menghampiri Yoseob dan menjatuhkan dirinya di pelukan Yoseob.
“Sungguh..aku sangat lelah.” Kata Hyejin lirih.
Yoseob memeluk Hyejin erat lalu tertawa. “Sekarang sudah selesai kok, kau bisa beristirahat nanti.”
Hyejin mengangguk lalu kemudian melepaskan pelukannya dan memandang Yoseob. “Oppa… hari ini aku menginap di apartment-mu yah. Yunho oppa pasti sudah tidur, aku tidak mau membangunkannya.”
Yoseob tertawa lagi. “Araso. Kau seperti tidak pernah menginap di apartment-ku saja. Anggap saja rumahmu sendiri, kau boleh datang kapanpun juga kau mau. Ara?”
Hyejin tersenyum. “Gomawo Oppa.”
***
Sudah seminggu Hyejin merasakan badannya sangat lemas dan seperti tidak mempunya energi untuk melakukan segala sesuatu. Ia merasa pusing dan mual. Namun, ia berpikir kalau maagnya kambuh sehingga ia hanya meminum obat maag. Maag Hyejin memang sering kambuh karena ia jarang sekali memiliki waktu untuk makan.
Yunho bingung melihat Hyejin yang tidak bersemangat. Bahkan ketika sedang makan, Hyejin hanya mengaduk-aduk makananya tapa berniat untuk memakannya. Yunho akhirnya menegur Hyejin. “Hey, kenapa kau hanya mengacak-acak makananmu? Kenapa tidak kau makan?”
Hyejin tersentak kemudian meringis. “Aku tidak nafsu makan oppa. Akuu…” belum sempat Hyejin menyelesaikan kalimatnya, Hyejin merasakan mual lagi kemudian ia berlari ke kamar mandi. Ia mengeluarkan seluruh isi perutnya yang entah sudah terisi apa karena ia belum makan.
Yunho khawatir dan menghampiri Hyejin kemudian mengelus punggung Hyejin. “Kau kenapa Hyejin? Kau sakit?” tannyanya khawatir.
Hyejin menggenggam baju Yunho untuk menahan dirinya sehingga tidak jatuh. “Aku tidak tahu oppa. Aku hanya merasa lemas saja akhir-akhir ini. Mungkin aku masuk angin oppa.”
“Kalau begitu, hari ini kau tidak usah masuk sekolah saja, dan kau juga tidak boleh bekerja hari ini. Kau istirahat saja di rumah dan tidak boleh pergi ke mana-mana. Ara?!” kata Yunho dengan tegas.
Hyejin ingin membantah karena ia ada rekaman untuk album selanjutnya, namun akhirnya ia hanya mengangguk karena ia tahu dalam keadaan seperti ini ia tidak akan bisa rekaman.
Yunho lalu membantu Hyejin berjalan menuju kamarnya.
***
Sepulang sekolah Yoseob datang ke rumah Hyejin, ia khawatir karena hari ini Hyejin tidak masuk sekolah dan ia juga tidak mengangkat telepon darinya. Ia sadar kalau seminggu ini Hyejin kelihatan tidak bersemangat, mungkin ia sakit pikir Yoseob.
Yoseob sudah akrab juga dengan Yunho walaupun mereka berbeda perusahaan sehingga Yunho langsung mengijinkan Yoseob menemui Hyejin di kamarnya. Yoseob tidak terlihat kaget ketika Yunho memberitahunya kalau Hyejin sakit karena ia memang sudah menduga sebelumnya.
Yoseob kemudian menghampiri Hyejin yang sedang berbaring di tempat tidur dan membelai wajahnya dengan lembut.
Hyejin yang merasa ada tangan yang menyentuh wajahnya mengerjapkan matanya pelan. Ketika melihat itu Yoseob, Hyejin menggenggam tangan Yoseob yang sedang membelai wajahnya. “Oppa.. kenapa kau bisa ada di sini?”
Yoseob tersenyum. “Tentu saja menjengukmu. Aku khawatir karena kau tidak masuk sekolah dan kau juga tidak memberi kabar padaku, kau juga tidak mengangkat telepon dariku.”
Hyejin meringis kemudian ia duduk. “Oh mianhae oppa.. Mianhae sudah membuatmu khawatir. Aku tidak apa-apa. Hanya masuk angin saja.”
Yoseob menatap Hyejin dengan tatapan tidak percaya kalau Hyejin tidak apa-apa. “Kau yakin Hyejin? Wajahmu tidak menujukkan kalau kau tidak apa-apa. Kau sangat berantakan.”
“Ah, iyah, aku pasti terlihat sangat berantakan. Aigoo…” Hyejin lalu merapikan rambutnya yang kusut karena sedari tadi ia tidur terus.
Yoseob memeluk Hyejin. “Kau ini… Sudah istirahat lagi yah. Aku tidak suka melihatmu dalam keadaan seperti ini.”
Hyejin menggenggam tangan Yoseob sambil berbaring di tempat tidur. “Tapi, kau harus menemani aku di sini. Jangan pergi yah.”
Yoseob tersenyum. “Aku akan menemanimu di sini. Tidurlah.” Yoseob lalu membelai rambut Hyejin sampai Hyejin tertidur.
***
Setelah seminggu kemudian kondisi Hyejin juga masih lemah walaupun ia sudah beraktivitas seperti biasanya. Yoseob membujuknya ke dokter namun Hyejin tidak pernah mau. Akhirnya setelah berapa kali membujuk Hyejin mau juga memeriksakan dirinya ke dokter dengan dtemani oleh Yoseob.
Setelah Hyejin diperiksa, Hyejin dan Yoseob duduk di hadapan dokter itu. Yoseob langsung bertanya. “Dia sakit apa dokter?”
Dokter itu terlihat mencatat sesuatu lalu ia memandang Hyejin. “Apakah bulan ini anda sudah mendapat haid?” tanyannya.
Hyejin menggeleng pelan. “Belum dokter.”
“Kapan terakhir kali anda mendapat haid?” tanyannya lagi.
Hyejin terlihat mengingat-ingat. “Sepertinya bulan lalu saya masih mendapat haid.”
Dokter itu kemudian tersenyum dan memandang kedua orang di hadapannya bergantian. Kemudian ia memandang Yoseob. “Selamat yah sebentar lagi anda akan menjadi seorang ayah. Istri anda hamil 1 bulan.”
Yoseob dan Hyejin tidak bisa berkata apa-apa saking kagetnya. Wajah Hyejin terlihat pucat. “Apa dokter yakin?”
Dokter itu tersenyum. “Yah, saya yakin sekali.”
Hyejin lalu berlari keluar ruangan dokter itu. Yoseob mengucapkan terima kasih kepada dokter itu baru mengejar Hyejin. “Hyejin! Tunggu!”
Hyejin tidak mempedulikan panggilan Yoseob, ia berlari terus keluar rumah sakit. Yoseob akhirnya berhasil mengejar Hyejin ketika mereka berada di luar rumah sakit. “Hyejin!” Yoseob menarik tangan Hyejin sehingga Hyejin berada tepat di hadapannya.
Hyejin menangis histeris. “Aku..aku tidak hamil kan oppa?! Aku tidak mungkin mempunyai anak kan?! Bilang kalau semua yang dokter itu katakan salah!”
Yoseob tidak berkata apa-apa ia menarik Hyejin ke pelukannya. “Tenanglah Hyejin..” Hyejin terisak di pelukan Yoseob.
***
Yoseob menghempaskan tubuhnya di atas ranjang. Ia memejamkan matanya dan meremas rambutnya. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Hasil pemeriksaan tadi benar-benar membuatnya stress, bagaimana mungkin Hyejin bisa hamil. Memang beberapa kali mereka sering berhubungan, namun ia tidak pernah memikirkan akibatnya. Ia tidak tahu harus berbuat apa.
Yoseob lalu bangun dan duduk. Ia merasa harus bertanggung jawab karena ia yakin anak yang ada di dalam kandungan Hyejin adalah anaknya. Sewaktu pertama kali berhubungan dengannya Hyejin masih virgin. Ia akan menikahi Hyejin. Ia tidak peduli dengan sekolahnya, lagipula ia mencintai Hyejin jadi tidak apa kalau menikahinya sekarang, pada akhirnya mereka juga pasti akan menikah.
Yoseob mengambil hp nya berniat menelpon Hyejin namun Hyejin sudah menelponnya duluan. “Ya, Hyejin. Aku baru saja ingin menelponmu.”
“Oppa..bisakah kita bertemu. Ada yang ingin aku bicarakan denganmu.” Kata Hyejin lirih. Yoseob tahu kalau ini sangat berat buat Hyejin.
“Ya, aku juga mau bicara denganmu. Sebentar lagi aku jemput kamu yah.”
“Tidak usah oppa. Biar aku saja yang datang ke apartmentmu. Sampai nanti oppa.” Hyejin lalu menutup telponnya dan bergegas menuju apartment Yoseob.
***
Tidak lama kemudian Hyejin sudah sampai di apartment Yoseob. Yoseob ketika melihat Hyejin langsung memeluknya, namun Hyejin melepaskan pelukannya dan berjalan lalu duduk di tempat tidur Yoseob. Yoseob menutup pintu apartment nya lalu duduk di sebelah Hyejin.
“Kenapa Hyejin?” tanya Yoseob lembut.
Hyejin diam sebentar baru kemudian ia berata lirih. “Oppa..aku… Ehmm..bagaimana kalau kita gugurkan kandunganku. Aku belum siap untuk jadi seorang ibu. Aku masih ingin sekolah dan aku masih punya karir oppa, aku tidak mau meninggalkan itu semua sekarang oppa. Mianhae…”
Wajah Yoseob mengeras. “Tidak! Aku tidak akan pernah mengijinkanmu melakukan aborsi! Aku tidak mau membunuh anakku sendiri!”
“Tapi oppa..aku tidak mungkin melahirkan anak ini! Apa kata orang nanti?! Karirku akan hancur oppa!” teriak Hyejin.
“Hyejin…kita menikah saja. Aku akan bertanggung jawab Hyejin, aku mencintaimu. Aku akan menikahimu.” Kata Yoseob lembut.
“Apa?! Kau bilang menikah?!” Hyejin tertawa sinis. “Oppa kau jangan bercanda. Kita tidak mungkin menikah, kita masih belum lulus sekolah oppa, dan lagi aku harus bilang apa sama Yunho oppa.”
“Bilang saja yang sebenarnya pada Yunho hyung, ia tidak akan marah padamu Hyejin. Ia sangat meyayanginmu, kau tahu itu.” Kata Yoseob.
Hyejin terdiam lalu ia bicara lagi. “Mianhae oppa. Aku tidak bisa menikah denganmu. Aku ingin menggugurkan anak ini. Dengan atau tanpa persetujuanmu!” Hyejin lalu beranjak pergi.
Yoseob menarik tangan Hyejin menahannya pergi. “Tidak!! Hyejin..kumohon jangan gugurkan anak itu. Aborsi itu bahaya Hyejin. Itu bisa membunuhmu juga. Aku tidak akan mengijinkanmu!” wajah Yoseob memerah menahan amarah.
Hyejin menjatuhkan dirinya sehingga ia terduduk di lantai. Ia menangis terisak-isak sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan. “Kau tega oppa.. kau tahu kan kalau impianu itu menjadi seorang penyanyi. Kau tega merusak impianku oppa. Kau jahat!! Oppa masih bisa menjadi seorang penynyi kalau kita menikah, tapi aku tidak bisa oppa!”
Yoseob menatap Hyejin sedih. Ia mendekati Hyejin lalu memeluknya. “Mianhae Hyejin ah..mianhae…” bisik Yoseob lirih.
***
Akhirnya Hyejin memutuskan untuk menjalani hari seperti biasanya, masalah kehamilannya masih bisa ia tutupi karena kehamilannya baru berusia 1 bulan sehingga belum terlihat. Hyejin masih berangkat ke sekolah seperti biasa, dan ia juga belum menceritakan masalah ini pada Yunho.
“Hyejin…” panggil Yoseob ketika Hyejin sedang berjalan menuju kelasnya.
Hyejin menoleh lalu tersenyum tipis. Yoseob menjajari langkah Hyejin menuju kelasnya. “Bagaimana keadaanmu hari ini? Sudah lebih baik?”
“Yah seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja kan.” Kata Hyejin cuek.
Yoseob menghela nafas letih. “Hyejin…jangan mengacuhkan aku. Aku tahu aku egois. Aku hanya tidak ingin kau melakukan aborsi.”
Hyejin secara reflek langsung menutup mulut Yoseob. “Oppa…jangan ngomong di sini, nanti kalo ada yang denger gimana.” Hyejin berkata dengan kesal.
Yoseob melihat kanan-kiri. “Ups..mianhae.. aku lupa Hyejin..” Yoseob meringis.
Hyejin berjalan lagi diikuti Yoseob. “Oppa..beri aku waktu untuk berpikir. Bolehkah?”
Yoseob mengangguk kemudian tersenyum. “Tentu saja. Tapi kau harus tahu Hyejin, aku selalu ada kapanpun kau membutuhkan aku. Jadi, jangan bertindak bodoh. Ara?”
Hyejin kemudian mengangguk. Mereka berdua sudah sampai di depan kelas Hyejin. Yoseob lalu mencium bibir Hyejin sebelum ia pergi dari situ. “Jalka..”
Hyejin tertegun sejenak di depan kelas sebelum ia masuk ke dalam kelas.
***
Hyejin memejamkan matanya berharap ketika ia membuka matanya ini semua adalah mimpi. Namun, ia tahu itu semua tidak mungkin. Hyejin tahu kalau bayi ini adalah hasil dari cintanya dan Yoseob, tapi ia merasa belum siap menikah dan menjadi seorang ibu. Ia sangat menyukai profesinya menjadi seorang penyanyi. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan.
Tiba-tiba ia memikirkan sesuatu, ia bergegas bangun dari tempat tidurnya dan membuka laci di meja belajarnya dan menemukan sebotol obat tidur. Hyejin memandang obat tidur itu dengan penuh pertimbangan.
“Hyejin…aku masuk yah.” Yunho membuka pintu kamar Hyejin.
Hyejin terlonjak lalu buru-buru melempar botol obat tidur itu ke dalam laci dan menutupnya. “Yunho oppa. Kau mengagetkan aku saja. Ada apa?”
Yunho meringis. “Mianhae… Aku mau pinjam notebook mu untuk membuat tugas, notebook-ku lagi diservice.”
Hyejin lalu mengambil notebook yang ada di meja belajarnya lalu memberikannya pada Yunho.
“Kau sedang tidak menggunakannya kan? Jadi, tidak apa kan kalau aku memakainya?” tanya Yunho lagi.
Hyejin menggeleng pelan. “Gwenchana oppa, aku sedang tidak menggunakannya sekarang. Kau pakai saja oppa.” Hyejin tersenyum.
“Baiklah kalau begitu. Gomawo Hyejin ah.” Yunho lalu pergi dari kamar Hyejin.
Hyejin menghela nafas lega, lalu mengambil botol obat itu dan menggenggamnya. Hyejin lalu duduk di tempat tidurnya dan menyenderkan tubuhnya lalu memandangi botol itu. Ia berpikir apakah yang akan ia lakukan ini benar.
Hyejin lalu duduk dan membuka botol itu lalu menuang semua isinya ke tangan. Setelah berpikir beberapa lama ia memasukan semuanya ke dalam mulutnya.
Tiba-tiba Yoseob membuka pintu kamar Hyejin dan melihat apa yang dilakukan Hyejin. Yoseob langsung menghampiri Hyejin dan menyuruh Hyejin memuntahkan semua obat itu.
“Hyejin!! Jangan ditelan, keluarkan semuanya!” Yoseob menekan pipi Hyejin supaya mulutnya bisa terbuka.
Hyejin menggeleng, ia tetap berusaha untuk menelan semua obat itu, namun karena terlalu banyak agak sulit untuk menelannya.
“Hyejin!! Jangan main-main! Cepat keluarkan!” Yoseob semakin panik.
Hyejin menggeleng lagi dan memegang tangan Yoseob supaya melepaskannya. Namun, karena ada beberapa obat itu yang sudah tertelan olehnya, tenaga Hyejin semakin melemah. Lalu Hyejin kehilangan kesadarannya.
“Ya Tuhan Hyejin!” Yoeob lalu berusaha mengeluaran sisa obat tidur yang belum tertelan oleh Hyejin lalu mengangkat tubuh Hyejin dan membawanya ke rumah sakit.
***
Yoseob langsung menghampiri dokter setelah dokter itu selesai memeriksa Hyejin. “Bagaimana keadan Hyejin dok?”
Dokter menghela nafas. “Untunglah ia tidak apa-apa, bayi dalam kandungannya juga selamat. Tapi sekarang ia masih belum sadar, pengaruh obat tidur yang ia minum masih ada.”
Yoseob menghela nafas lega. “Syukurlah kalau begitu. Gansahamnida dokter.”
Dokter mengangguk lalu meninggalkan Yoseob. Yoseob langsung masuk ke kamar tempat Hyejin di rawat dan menghampirinya. Yoseob membelai wajah Hyejin lembut dan menggenggam tangannya. “Kau tidak menepati janjimu Hyejin untuk tidak melakukan hal bodoh. Kau hampir membunuhku karena khawatir.”
Yoseob menunggu di situ sampai Hyejin sadar keesokan harinya. “Hai.. kau sudah sadar? Syukurlah Hyejin.”
Hyejin menghembuskan nafas kesal. “Kenapa? Kenapa tidak kau biarkan saja aku dan bayi di dalam kandunganku ini mati?”
“Hyejin…aku tidak akan pernah membiarkan kau ataupun bayi kita mati. Ara?!” kata Yoseob tegas. “Aku mencintaimu Hyejin. Bagaimana mungkin aku bisa membiarkanmu mati.”
“Kalau kau mencintaiku, kau akan membiarkan aku melakukan aborsi oppa.” Hyejin berkata lemah.
“Apa kau bilang? Aborsi?! Apa yang sedang kalian bicarakan?!” tiba-tiba Yunho masuk ke dalam kamar perawatan Hyejin. Tidak sengaja Yunho sudah mendengar separuh pembicaraan mereka.
Hyejin dan Yoseob terdiam dan wajah mereka berdua terlihat pucat. Hyejin menatap Yoseob meminta pertolongan.
Yunho menatap tajam ke arah Hyejin lalu berganti ke arh Yoseob. “Hyejin!! Jujur padaku apa yang kalian bicarakan tadi!”
“Hyung…kami..”
“Diam kau Yoseob! Aku sedang tida bertanya padamu! Aku bertanya pada Hyejin!” Yunho lalu menatap Hyejin lagi. “Jawab Hyejin!!” bentaknya.
Hyejin menunduk lalu menangis, ia tidak berani menatap wajah Yunho. Hyejin tahu Yunho marah besar dan Yunho akan bertambah marah jika ia menjelaskan semuanya. “Yunho oppa.. mianhae.. mianhae…”
Yunho menelan ludah, ia selalu merasa tidak tega jika melihat Hyejin menangis. Lagipula ia sudah berjanji pada kedua orangtuanya akan menjaga Hyejin dengan baik dan tidak akan membuatnya menangis. Namun, ia tidak bisa terlalu memanjakan adiknya terus, ia tahu ada sesuatu yang disembunyikan oleh adiknya dan ia harus tahu itu.
“Hyejin, katakan padaku apa yang terjadi. Aku tahu kau menyembunyikan sesuatu dariku.” Suara Yunho mulai melembut.
“Aku..aku hamil oppa.” Kata Hyejin sambil terisak. Dan Hyejin sudah siap menerima kemarahan Yunho yang lebih besar lagi.
“Apa kau bilang? Kau hamil?!” Yunho lalu menatap Yoseob yang sedang menunduk. Yunho lalu meremas rambutnya kesal. “Oh my God Hyejin. Kenapa kau menyembunyikan hal ini dariku?! Siapa ayah bayi itu?!” Yunho lalu sadar ia tidak perlu bertanya. “Oh aku tahu!”
Yunho lalu menghampiri Yoseob lalu memukul wajah Yoseob dengan keras. “Kau keterlaluan Yoseob!!”
Hyejin berteriak lalu ia bangun dan menahan Yunho memukul Yoseob terus. “Yunho oppa, jangan pukul Yoseob oppa terus. Ini bukan salah Yoseob oppa sepenuhnya, aku juga salah oppa, Yunho oppa pukul aku saja.”
“Aku sangat kecewa padamu Hyejin. Aku tidak pernah punya adik sepertimu Hyejin.” Kata Yunho lirih lalu pergi dari situ.
“Yunho oppa!!” Hyejin menutup kedua wajahnya. “Mianhae oppa..mianhae…”
Yoseb mendekati Hyejin lalu memeluk tubuhnya.
***
Setelah beberapa hari Hyejin sudah diperbolehkan pulang ke rumah, namun sejak hari itu Yunho tidak pernah menjenguk Hyejin lagi. Hyejin jadi takut untuk pulang ke rumah.
“Yoseob oppa, aku tidak mau pulang ke rumah. Yunho oppa pasti masih marah denganku.” Hyejin menggigit bibir bawahnya.
“Hmmm…bagaimana kalau sementara ini kau tinggal di apartment-ku?”
Hyejin terlihat berpikir namun akhirnya ia mengangguk. Ia sudah tidak punya pilihan lain, tidak mungkin ia tidur di jalanan.
Yoseob tersenyum. “Ayo.”
***
Hyejin menghampiri Yoseob yang sedang sibuk dengan notebook-nya. Ia lalu duduk di hadapan Yoseob. “Oppa, aku mau bicara. Kau sedang sibuk?”
Yoseob menggeleng lalu menutup notebook-nya. Ia memandang Hyejin dengan lembut. “Ada apa Hyejin?”
Hyejin meremas-remas tangannya gelisah. “Aku..aku mau menikah denganmu oppa.” Hyejin lalu menunduk tidak berani memandang wajak Yoseob.
Yoseob memandang Hyejin bingung kemudian ia tersenyum. Yoseob lalu bangun dan memeluk tubuh Hyejin mesra. “Akhirnya Hyejin, kau mau juga menikah denganku. Kau tahu? Aku sudah menunggu kalimat itu keluar dari bibirmu.” Yoseob lalu mencium bibir Hyejin dan Hyejin membalas ciuman Yoseob.
“Mianhae oppa sebelumnya aku sangat egois. Sekarang aku sadar mana yang lebih penting bagiku. Aku akan melepaskan impianku dan karirku. Aku akan berhenti bernyanyi dan menjadi istrimu sekaligus ibu rumah tangga yang baik.” Hyejin tersenyum.
Yoseob begitu bahagia mendengar perkataan Hyejin. “Hyejin…kau pegang janjiku. Aku akan membuatmu menjadi wanita paling bahagia dan aku tidak akan pernah membuatmu sedih.”
Hyejin tersenyum lagi. “Aku mencintaimu oppa.” Bisiknya.
Yoseob mencium bibir Hyejin lagi. “Yah, aku juga sangat mencintaimu.”
***
Keesokan harinya Hyejin pulang ke rumah tanpa sepengetahuan Yoseob. Ia ingin menemui Yunho dan meminta restu dari Yunho. Biar bagaimanapun Yunho adalah kakakknya dan ia satu-satunya keluarga yang ia miliki saat ini.
“Yunho oppa..” Hyejin berdiri di depan pintu kamar Yunho dan memanggil Yunho.
Yunho tidak menoleh ke arahnya dan tetap sibuk dengan pekerjaannya.
Hyejin menghela nafas lalu masuk ke dalam kamar Yunho dan berdiri di dekat Yunho. “Yunho oppa..aku mau bicara sebentar.”
“Bicara saja.” Kata Yunho ketus dan cuek.
Tenggorokan Hyejin tercekat, hatinya sedih, oppa nya tidak pernah berbicara seperti itu padanya. “Aku..aku ingin minta maaf oppa. Aku tahu aku salah. Aku telah membuatmu kecewa dan aku tidak pantas menjadi adikmu. Aku minta maaf oppa.”
Melihat Yunho diam saja Hyejin semakin sedih, ia kemudian berlutut di sebelah Yunho duduk. Hyejin memeluk kaki Yunho. “Yunho oppa…mianhae…nomu mianhae.. Kau boleh pukul aku, pukul aku oppa, tapi jangan mengacuhkan aku.”
Hati Yunho lama kelamaan luluh melihat Hyejin berlutut padanya dan memeluk kakinya seperti ini. Ia kemudian berlutut juga dan memeluk Hyejin.
Agak lama mereka saling berpelukan dan menumpahkan perasaan mereka.
Yunho lalu melepaskan pelukannya dan memandang Hyejin, ia menghapus air mata di wajah Hyejin. “Jangan menangis lagi, aku sudah memaafkanmu. Biar bagaimanapun kau adalah adikku dan aku menyayangimu.”
Hyejin memeluk Yunho lagi. “Gomawo Yunho oppa. Gomawo…”
Yunho tersenyum. “Selain itu kau juga akan memberitahu kabar gembira kan?”
Hyejin mengangguk. “Aku akan menikah dengan Yoseob oppa. Aku tida jadi melakukan aborsi oppa.”
Yunho membelai rambut Hyejin dengan lembut. “Ternyata kau akan mendahuluiku menikah. Tidak apa, aku merestuimu kok. Menikahlah Hyejin, aku ingin kau bahagia.”
“Gomawo Yunho oppa.. Gomawo..” Hyejin memeluk Yunho dengan erat.
***
FIN